Artikel

25-Dec-2013

Petrus JS

IMAN: ANUGERAH TUHAN

“Iman menjadi dasar dan kekuatan umat beriman untuk tetap giat bekerja sebagai perwujudan tanggapan atas panggilan Allah di dunia ini”.

Dalam sebuah keluarga katolik menjelang Hari raya Natal, yang menjadi rutin dilakukan di tengah keluarga itu adalah membuat kandang natal dan memasang pohon natal sebagai tambahannya, kebersamaan dan kerjasama di tengah keluarga itu dalam proses pembuatannya. Bahwa masing-masing anggota keluarga punya peran masing-masing, dari ayah, ibu dan anak-anaknya.  Tentu ini suatu cara yang sederhana dan efektif dalam mewariskan iman dimulai dan diawali dalam  keluarga. Juga bersama keluarga pula diajak untuk beribadah bersama, doa keluarga dan lain sebagainya. Bukan  sibuk dengan berbagai persiapan yang sifatnya lahiriah semata.  Apakah sebatas pernak pernik seputar Natal  yang dipersiapkan oleh keluarga katolik? Tentunya tidak bukan? Ada nilai solidaritas dan empati yang menjadi nilai dasar umat katolik setiap  merayakan Natal.

“Rasanya juga baru kemarin kita merayakan Natal, padahal sudah satu tahun kita menjalaninya....Hari ini rasanya kita bertanya kepada diri kita masing-masing, bagaimana rasanya menjadi orang katolik?” Apa yang sudah aku sumbangsihkan untuk Gereja selama satu tahun ini? Bagaimana kepedulian kita akan gerak langkah akan kehidupan menggereja kita? Dari tingkatan lingkungan, wilayah dan paroki?

Maka dari itu dalam dinamika umat berpartisipasi  nampak dalam berbagai keterlibatannya, kebersamaan dalam keluarga, lingkungan dan berbagai kegiatan umat di paroki secara umum.

Kewajiban kita sebagai umat beriman berasal dari keadaan hidup kita, sejak kita dipermandikan, berkat kemurahan Tuhan, kita merasa senang dan tenang, merasa selamat bahagia, sejahtera dan sentosa dalam iman kita, maka dengan sendirinya kita merasa terdorong untuk berdoa, berkorban dan berusaha supaya sesama kita pun ambil bagian dalam kesejahteraan dan kebahagiaan yang kita alami dalam jiwa kita dari anugerah Tuhan yang berupa iman dan kepercayaan itu.

Bapa Suci Paus Fransiskus memberikan pesannya agar kita menyadari bahwa iman adalah anugerah Tuhan, yang harus dibagikan kepada sesama. Itulah yang dapat menjadi bahan refleksi bagi kita, bahwa kita diutus untuk berbagi cinta Kristus Tuhan, dalam kehidupan sehari-hari. Semangat  ini juga menjadi milik dan tanggung jawab kita, Gereja pada masa sekarang. Apa pun profesi dan pekerjaan kita: petani, nelayan, pejabat, seniman, penguaha, pedagang, ibu rumah tangga, pegawai swasta, buruh, guru, mahasiswa, dan lain sebagainya. Semua profesi dan pekerjaan menjadi sarana mewartakan Kabar Gembira, karena “Setiap orang dipanggil untuk berpartisipasi sesuai dengan situasi status hidup mereka. Tak ada orang beriman, tak ada lembaga Gereja yang dapat menghindari tugas mulia ini.” (RM 3). Perintah Yesus ini tetap relevan sampai kini : “Kau juga, pergilah ke kebun anggur” (Mat. 20:7).

Tugas utama kita kaum awam baik pria maupun wanita, yakni memberi kesaksian  akan Kristus, kita wajib bersaksi dalam kehidupan di keluarga, di lingkungan sosial, di lingkungan profesi kerja. Sebab pada diri kita harus nampak manusia baru yang telah diciptakan menurut kehendak Allah dalam kebenaran dan kekudusan yang sejati (bdk. Ef 4:24).

Seiring dengan tema AAP (Aksi Puasa Pembangunan) Keuskupan Bogor 2013,  KEDATANGAN KRISTUS MENGUATKAN SEMANGAT KERJA, yang menjadi bahan perenungan di lingkungan-lingkungan sehingga profesi apapun yang dijalani umat katolik, semakin menyadarkan bahwa kita adalah bagian dari Gereja yang merasul di tengah-tengah kehidupan nyata. Menyadari hal ini keluarga-keluarga Katolik adalah keluarga yang mampu menjadi teladan dalam giat bekerja. Berkat sakramen baptis, Ekaristi dan Penguatan, suami-istri dan anak, tidak hanya dipersatukan dengan Kristus tetapi juga mengambil bagian dalam MARTABAT Kristus sebagai Nabi, Imam dan Raja.

 Ketiga martabat ini hendaknya dilaksanakan oleh keluarga katolik sebagai gereja rumah tangga untuk bekerja dengan disiplin dan jujur (Nabi), nilai-nilai kedisiplinan dan kejujuran yang menjadi nilai plus bagi orang katolik  itu,  kini identitas nilai kekhasan  ini semakin luntur. Masihkah ada yang bisa kita banggakan? Pekerjaan yang dilakukan sebagai persembahan apa yang dikerjakan itu untuk memuliakan Tuhan (Imam), dan bagaimana kita sebagai orang katolik dalam melaksanakan pekerjaan kita  dengan adil dan bijak (Raja). Dengan demikian umat beriman katolik yang meletakkan hidupnya atas dasar iman kepada Kristus, sudah pasti ia menghayati dan bekerja sebagai panggilan dan perutusan Tuhan.

Untuk itu keluarga katolik yang giat bekerja berarti  sanggup memanfaatkan, mengolah, menghasilkan dan menyediakan kebutuhan hidup bagi dirinya sendiri dan orang lain. Sebagai orang katolik yang beriman, sesungguhnya tidak bekerja sendirian, melainkan bekerja bersama Allah, dan senantiasa mendengarkan Allah melalui  Sabda Allah yang hidup.

REALITAS KITA

Dalam berbagai kesempatan dinamika umat diparoki di satu sisi sangat menggembirakan,  bersamaan dengan itu disisi lain adanya keprihatinan, sebagai contoh  kongkrit, undangan pertemuan atau rapat dengan agenda penting untuk memikirkan umat paroki, tingkat kepedulian dan kehadiran sebagai wujud tanggapan itu sangat minim. Bagaimanapun juga adanya kemajuan teknologi informasi sebagai sarana mudah dan canggih, tetaplah perjumpaan menjadi sangat penting sebagai wujud dari kedekatan relasi dan empati. Memaknai setiap tugas dan panggilan dalam bentuk pelayanan kepada umat,  hendaknya juga disyukuri  sebagai bentuk tanggapan atas panggilan dan perutusan dari Tuhan sendiri. Bolehkah kita bertanya, apa yang sebenarnya sekarang  sedang terjadi dengan kita?

Paus Fransiskus mengingatkan kembali tentang ajaran rohani Santo Ignatius Loyola, yang dalam Latihan Rohaninya, meminta kepada Tuhan yang Tersalib “rahmat penghinaan”. Beliau tegaskan, inilah “kekuatan sejati dari pelayanan Gereja”. Ini adalah jalan Yesus yang sejati, kemajuan sejati dan bukan duniawi: “Jalan Tuhan adalah berada dalam pelayanan-Nya: sebagaimana Ia melaksanakan pelayanan-Nya, kita harus mengikuti-Nya, pada jalan pelayanan. Itulah kekuatan sesungguhnya dalam Gereja”.

Tuhan memberi kita rahmat untuk memahami bahwa: kekuatan sesungguhnya dalam Gereja adalah pelayanan. Dan juga untuk memahami kaidah emas bahwa Ia mengajar kita melalui teladan-Nya: untuk orang kristiani, perkembangan, kemajuan, berarti menjadi rendah hati.  Semoga kedatangan Kristus sungguh menjadi kekuatan dalam karya hidup kita sebagai umat kristiani, dan memampukan kita menjadi umat yang lebih baik. Sehingga keluarga-keluarga kristiani semakin beribadah dalam kebersamaan. SELAMAT HARI NATAL DAN TAHUN BARU.

Petrus JS.