Artikel

03-Dec-2017

Fr. Ant. Joko Hermawan

Kita Tanah Liat yang Dibentuk Bapa

sumber: https://i2.wp.com/mdc-cikarang.com/main/wp-content/uploads/2017/10/berjaga-jagalah.jpg?fit=600%2C300

Kita memasuki masa liturgi Adven. Kata ‘adven’ berasal dari kata Latin ‘adventus’ (bahasa Yunani-nya: paraousia) yang berarti kedatangan. Masa adven berarti masa untuk menunggu kedatangan Sang Mesias, yakni Tuhan Yesus. Selama masa ini dalam Gereja doa-doa penyembahan dan bacaan Kitab Suci tidak saja mempersiapkan kita secara rohani akan kedatangan-Nya (untuk memperingati kedatangan-Nya yang pertama), tetapi juga mempersiapkan kedatangan-Nya yang kedua. Itulah sebabnya bacaan Kitab Suci pada masa Adven diambil dari Perjanjian Lama yang mengharapkan kedatangan Mesias dan Perjanjian Baru yang mengisahkan kedatangan Kristus untuk menghakimi semua bangsa.

Masa Adven ini berlangsung selama 4 minggu, yakni dari Minggu Adven I sampai dengan Minggu Adven IV. Di Minggu Adven I ini kita diberi bacaan dari kitab Nabi Yesaya yang mempertegas bahwa Allah umat Israel adalah sebagai Bapa. Allah adalah Bapa yang namanya disebut sebagai ‘Penebus kami’. Umat Israel digambarkan sedang membayangkan sekiranya Allah yang disebut Bapa itu mengoyakkan langit dan turun ke dunia, menunjukkan Diri-Nya sehingga nama-Nya dikenal oleh segala bangsa. Itulah pengharapan umat Israel akan Allah dan pengharapan ini didasari pula oleh kesadaran: bahwa Allah adalah Bapa dan umat Israel hanyalah tanah liat saja. Bapa adalah yang membentuk umat-Nya dan Israel hanyalah buatan tangan-Nya.

Pengartian Allah sebagai Bapa perlu sekali lagi kita hayati sungguh-sungguh, terlebih dalam masa adven ini. Allah yang kita nantikan bukanlah orang lain bagi kita, melainkan Bapa kita. Gambaran Allah sebagai Bapa yang diperkenalkan kepada kita memiliki makna yang sangat dalam. Makna ini adalah hubungan yang erat antara kita dengan Allah: bahwa Allah adalah Bapa yang senantiasa mengasihi kita umat-Nya. Oleh karena kasih Bapa itu, kita akan menyaksikannya secara nyata bahwa Allah akan hadir menyelamatkan kita. Namun, kesadaran Allah sebagai Bapa kita, tidak jarang justru membuat kita ‘keenakan’, artinya kita sering menganggap Bapa yang penuh kasih itu sebagai hal yang biasa sekali. Terlalu biasanya sehingga kita justru mudah meninggalkan Allah. Terlalu biasa sehingga kita memalingkan wajah dari kerahiman Allah.

Akan kondisi yang biasa seperti ini, Nabi Yesaya mengingatkan kita untuk sadar kembali bahwa Allah adalah Bapa yang membentuk kita. Kita adalah buatan tangan-Nya, tanah liat yang dibentuk oleh Bapa. Maka masa penuh pengharapan akan Allah yang akan hadir ini perlu didasari dengan kesadaran bahwa Allah adalah Bapa dan kita buatan tangan-Nya. Sebagai tanah liat yang dibentuk oleh Bapa, kita tentu memiliki kerapuhan dan kelemahan yang sangat besar. Seperti barang dari tanah liat yang mudah pecah, kita pun sering mengalami ‘keterpecahan’ dalam hidup. Pengalaman ‘keterpecahan’ bisa diartikan macam-macam, tetapi pada dasarnya mengandung suatu hal yang negatif; kegagalan, kesakitan, tak berguna, dan lain sebagainya. Namun, kiranya pengalaman seperti ini tidak membuat kita larut di dalamnya sebab Tuhan Yesus yang kita nantikan akan meneguhkan kita sampai kesudahannya (surat Paulus kepada jemaat di Korintus). Maka meski kita mengalami kondisi dan situasi yang sulit, kita harus tetap berjaga-jaga. Kondisi dan situasi yang bisa memecah belah, mempersulit, dan melemahkan mungkin akan selalu ada, tetapi kita tetap menjaga diri untuk tidak larut di dalamnya. Namun sebaliknya selalu mengarahkan diri kepada Bapa yang akan turun dan hadir bersama kita, Dialah Sang Mesias, Tuhan kita Yesus Kristus. (Fr. Ant. Joko Hermawan)