Artikel

17-Dec-2017

Fr. Yoseph Didik Mardiyanto

Natal Butuh Persiapan Hati

sumber: https://www.google.co.id/search?hl=en&tbm=isch&source=hp&biw=1252&bih=558&ei=0m42WvHZD4rjvgTxnK6YDw&q=minggu+gaudete&oq=minggu+gaudete&gs_l=img.3..0i24k1.17594.20400.0.20618.17.10.0.5.5.0.307.1477.0j2j2j2.6.0....0...1ac.1.64.img..6.10.1506.0..0j0i10k1j0i5i30k1j0i8i30k1.0.DrJuRo-QJLc#imgrc=16w8Os0IDCkrtM:

Hari-hari ini, meski masih seminggu lebih sedikit, suasana Natal sudah ‘sangat’ terasa! Bahkan beberapa instansi atau sekolah, sudah ‘merayakan’ Natal, karena saat Natal, mereka pastinya sudah libur. Kalau anda ke mall, atau tempat-tempat umum, gambar dan pernak-pernik Natal sudah menghiasi sudut-sudut keramaian. Di media-media sosial, promosi tentang kue-kue kering sebagai hidangan ‘khas’ Natal, adalah promosi yang paling sering saya lihat.

Saya suka iseng bermain ke kamar teman-teman, dan lagu-lagu yang mereka setel di kamar juga adalah lagu-lagu Natal, semacam Transeamus, atau Holy Night, dan termasuk Christmas Lullaby. Selain itu, beberapa teman juga sudah mempersiapkan tugas-tugas untuk Natal, entah di paroki atau di seminari, sehingga kemeriahan Natal sudah sedemikian akrab dan lekat.

Oh ya, hari ini, hari Minggu Adven III, sering kita kenal dengan Minggu Gaudete, dengan ciri khasnya adalah warna liturgi berwarna merah muda atau pink. Minggu Gaudete menggambarkan kegembiraan dan sukacita yang semakin mendekat. Namun, meski begitu, masih ada satu lilin ungu, yang akan dilewati. Itu artinya apa? Memang, harapan tentang Natal sudah semakin dekat secara waktu, namun lilin ungu yang terakhir itu mau memastikan bahwa kita pun tidak sekedar mempersiapkan segala sesuatunya secara jasmani atau materi, namun juga secara rohani, menyangkut persiapan hati untuk menyambut Sang Juru Selamat.

Bercermin dari pewartaan Yohanes Pembaptis, yang berkarya untuk ‘membuka-jalan’ bagi Yesus, kita bisa belajar tentang artinya mempersiapkan kehadiran Sang Juru Selamat secara rohani. Yohanes Pembaptis, bisa kita sebut sebagai ‘nabi’ pada zaman itu, bahkan nabi besar, karena berkat pewartaannya, banyak orang menyediakan diri untuk dibaptis dan bertobat. Dan untuk segala hal yang pernah ia lakukan, tentu pantas kalau dia bangga dan bermegah diri, namun dia tidak pernah memilih jalan yang seperti itu.

Justru, dengan kesadaran penuh, dia mengatakan bahwa dia sekedar ‘suara yang berseru-seru di padang gurun’, untuk mempersiapkan kedatangan Yesus. Dia sadar tentang posisi dan perannya dalam seluruh rencana keselamatan. Dia mampu mengambil perannya secara pas, tanpa pernah mau mengambil keuntungan atau bahkan memonopoli ‘jalan keselamatan’. Yohanes Pembaptis justru memilih jalan ‘sunyi’, sepi, dimana ia sendiri ingin bahwa segala sesuatu yang dilakukannya, tidak pernah sebanding dengan sesuatu yang akan datang, yang ia katakan sebagai ‘Dia yang datang kemudian setelah aku, dan membuka tali kasutNya pun aku tak pantas’.

Dari sini, bolehlah kita belajar dari Yohanes Pembaptis, bahwa mempersiapkan kehadiran Sang Juru Selamat, pertama-tama adalah soal kesiapan batin dan hati, dan justru bukan dengan persiapan-persiapan jasmani dan materi, yang barangkali setelah perayaan akan segera hilang dan musnah.

Apa gunanya pernak-pernik di ujung kamar, pakaian baru, kue-kue yang enak, lagu-lagu Natal, dan belanja besar-besaran, kalau hati kita, yang nanti akan menjadi tempat Sang Juru Selamat bersemayam, justru tidak pernah mempersiapkan tempat khusus untukNya? Untuk itulah, mengapa Gereja juga memberi kesempatan bagi umatnya untuk memberi pelayanan pengakuan dosa, yang menjadi salah satu cara untuk mempersiapkan kehadiranNya dalam batin dan hati. Termasuk ketika kita juga berkenan untuk memperhatikan saudara-saudara yang lemah dan berkekurangan, sesama yang kurang beruntung lewat berbagai macam cara dan upaya, sehingga sukacita dan kegembiraan itu tidak hanya milik kita sendiri.

Semoga, kita sungguh menjadikan Natal sebagai peristiwa iman, bukan sekedar ‘pesta’ yang sehari-dua hari kemudian hilang musnah, tak berbekas.

Selamat mempersiapkan kehadiran Tuhan dengan segenap hati. Tuhan Memberkati. (Fr. Yoseph Didik Mardiyanto)