Artikel

24-Dec-2017

Frater Seminari Tinggi St. Petrus-Paulus, Bandung

“Sesungguhnya Aku ini Hamba Tuhan...”

sumber: https://sangsabda.files.wordpress.com/2016/12/1-0-annunciation-philippe-de-champaigne.jpg?w=570&h=558

Maria adalah teladan kerendahan hati, kemurnian diri, dan kesetiaan. Melalui Maria, kita diajak untuk mau dan mampu meneladani sikap-sikapnya itu. Melalui ia pula, kita diantar kepada Sang Juruselamat yang sebentar lagi akan datang ke dunia. Sebagai teladan kerendahan hati, kemurnian diri, dan kesetiaan, kita dimampukan untuk menjadi pribadi yang luhur nan-suci sehingga kita layak menyambut kedatangan Sang Juruselamat.

Dengan keteladanan yang diberi oleh Maria, kita pun diajak untuk menjadi pribadi yang selalu siap-sedia dalam mengemban tugas sebagai gembala. Sikap siap-sedia yang dicontohkan oleh Maria terungkap dalam kata “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataan-Mu.” Ungkapan itu hendak mengajak kita untuk mau dan setia menjalankan tugas perutusan walaupun dalam keadaan yang masih samar. Maria yang mengemban tugas berat, yakni mengandung dan melahirkan Juruselamat, tetap menjalankan tugasnya karena ia sadar bahwa tugas itu ialah kehendak Allah. Maka dari itu, kita harus meneladani sikapnya yang patuh, pasrah, dan bertanggung jawab dalam mengemban tugas yang diberikan oleh Allah.

Kesetiaan Maria dalam mengemban tugas merupakan teladan yang luhur bagi kita, manusia. Melalui sikap yang setia, kita mampu mengemban dan menjalankan tugas yang diberikan oleh Allah secara bertanggungjawab. Dengan kata lain, kesetiaan membawa kita pada kepasrahan hidup akan kehendak Allah. Sikap setia dan pasrah ialah jalan menuju Sang Juruselamat yang hendak kita tuju.

Dalam adven ke IV, tindakan pemurnian diri dicontohkan melalui sikap siap sedia dan kepasrahan. Sebagai contoh dari sikap siap sedia: tugas mendekor kandang/gua natal, menyusun rangkaian acara Natal, dan petugas liturgi. Sebagai contoh dari sikap pasrah: menerima Sakramen Tobat, merayakan Ekaristi, dan membaharui diri. Pemurnian diri melalui dua hal tersebut amat penting sebab hal itu merupakan syarat kelayakan dalam rangka menyambut kehadiran Sang Juruselamat.

Adven ke IV disebut juga masa persiapan terakhir sebelum merayakan kedatangan Sang Juruselamat. Perolehan keselamatan hampir mencapai puncaknya. Penantian yang panjang serasa lama sekaligus serasa singkat. Pemurnian diri serasa penuh sekaligus kurang sama sekali. Hal itu membawa pemaknaan sukacita terasa samar sama sekali, apakah telah dicapai atau hendak dicapai?

Kesiapsediaan dan kesetiaan tampaknya sia-sia belaka. Pemurnian diri dan kepatuhan seakan-akan tak berarti oleh karena kesamaran tujuan “sukacita” Natal. Namun, Maria mengingatkan kita bahwa segala persiapan yang kita lakukan tidaklah mencapai kesia-siaan. Persiapan yang kita lakukan itu dikukuhkan dan ditujukan pada sukacita sejati. Maksudnya, sukacita atas keselamatan dan pembaruan hidup yang berasal dari Allah melalui Kristus Yesus.

Oleh karena itu, pandangan kesia-siaan atas penyucian diri tidak muncul kembali. Sikap setia dan siap sedia mewujudnyata pada Hari Raya Natal. Keselamatan yang adalah angan-angan menjadi nyata dalam kehidupan. Sukacita yang adalah samar menjadi jelas dengan kedatangan Ia, Sang Juruselamat. “Aku” yang adalah “hamba” menjadi serupa dengan Ia yang hadir ke dunia. “Aku” yang berpikir tentang angan-angan sukacita menjadi “perasa” sukacita yang nyata. Maka dari itu, Maria dan “Aku” yang meneladaninya telah sampai dan memperoleh rahmat keselamatan dan sukacita abadi Allah.

“Penantian yang semu mendapat cahaya. Pemurnian diri mencapai kekosongannya. “Aku” yang adalah hamba menjadi berarti oleh karena kesetiaan.”