Artikel

14-Jan-2018

Petrus JS

Menanggapi Sapaan dan Panggilan Allah

sumber: https://www.google.co.id/url?sa=i&rct=j&q=&esrc=s&source=images&cd=&ved=0ahUKEwiEgbeVxtnYAhXMTrwKHQUqDnsQjBwIBA&url=http%3A%2F%2F2.bp.blogspot.com%2F_tZcE09F9JrA%2FSWqvfLopurI%2FAAAAAAAAA7Y%2FjT9josS6phw%2Fs400%2F7.bmp&psig=AOvVaw3BjvW9ZgeLl4NNG78Kn8KS&ust=1516091193873941

Pada minggu ini kita mengawali Masa Biasa, bacaan liturgi menyajikan kisah tentang panggilan. Kita diingatkan kembali sebagai warga Gereja yang beriman Katolik tetang bagaimana seharusnya hidup kita sebagai orang Katolik. Kita adalah anak-anak angkat Allah dan murid-murid Yesus.

Dalam bacaan pertama Samuel yang masih muda menanggapi panggilan Allah dengan bantuan Eli. Samuel menyediakan diri seluruhnya bagi pelayanan Tuhan. Dengan menanggapi sapaan dan panggilan Tuhan dengan menjawab, “Bersabdalah, ya Tuhan, hamba-Mu mendengarkan.” Pada bacaan kedua, sejak kita dibaptis tubuh kita sudah dikuduskan Allah. Maka kita hendaknya hidup suci karena tubuh kita menjadi tempat kediaman Roh Kudus.Sementara dalam bacaan Injil Yohanes memberi kesaksian tentang ‘Lihat Anak Domba Allah’ dan kedua saksi Andreas dan Simon memberi kesaksian: Kami telah menemukan Mesias.

Beriman Katolik bukanlah sekedar dibaptis dan memiliki surat baptis. Bukan juga asal mengikuti Perayaan Ekaristi Minggu, terima komuni, atau rajin ikut kegiatan sekalipun. Iman kita perlu ditegaskan dan disegarkan kembali, yang mana sekarang ini kita dihadapkan dengan situasi kehidupan yang dinamis dan cepat berubah-ubah, setiap zaman, setiap hari bahkan setiap saat. Hidup beriman di zaman kekinian dihadapkan pada banyak persoalan kehidupan, yang mengancam kesejatian hidup itu sendiri. Sebagaimana hidup ini, kita bekali dengan prinsip dan keyakinan yang kuat, untuk menjadikan hidup beriman kita bergairah dan bersukacita dalam kehidupan. Oleh karena itu kita belajar seperti Samuel disapa Allah dengan bantuan Eli; Andreas dan Simon mengenal Yesus melalui jasa Yohanes Pembaptis. Banyak pengalaman diantara kita mengenal Yesus dan beriman Katolik berkat pertolongan orang lain misalnya orang tua, guru atau teman/sahabat di sekolah atau pekerjaan, melalui perjumpaan dengan sesama baik di lingkungan/wilayah.

Perjumpaan kita dengan sesama memungkinkan kita untuk belajar banyak tentang kehidupan untuk mengenal Allah dengan cara-cara yang sederhana. Bukan harus dengan sesuatu yang dahsyat kita untuk mengenali Allah. Iman akan Allah yang senantiasa menyertai kita dan upaya untuk hadir di hadiratNya akan menjadikan kita seorang pribadi yang diselamatkan. Sadar bahwa kita adalah Paguyuban Umat Allah. Bahwa hidup kita membutuhkan bantuan orang lain.

Beriman berarti disapa oleh Yesus secara begitu mempesona sehingga kita selalu ingin mengetahui lebih banyak dan mendalam tentang Dia. Akan tetapi Yesus tidak pernah memaksa untuk mengikuti Dia. Tak ada orang yang mengharuskan kita menjadi Katolik, ikut Misa di gereja, berdoa dsb. Sebaliknya Yesus sangat menghargai kebebasan kita dan menyapa kita dengan lembut “Apakah yang kamu cari?”. Menanggapi kerinduan untuk mengenal lebih dekat dengan Yesus, Yesus menyapa dengan penuh kasih sekaligus pembawa harapan disertai tantangan, Marilah dan kamu akan melihat-Nya”(Yoh 1:39).Beriman menuntut kita untuk masuk dalam keseluruhan hidup Yesus dan penyerahan diri kepada kehendak Bapa.

Mengikuti Yesus berarti turut serta memanggul salib. Kehangatan kasih Yesus itu hendaknya kita bagikan dan wartakan kepada sesama sebagai kesaksian bahwa kebahagiaan dan sukacita semakin disempurnakan karena “Kami telah melihat Kristus”. Kita masing-masing dipanggil seperti Andreas untuk mengenal Yesus lebih dekat dan mendalam supaya tahu apa yang disediakan oleh-Nya dan dikehendaki-Nya untuk kita lakukan. Melalui teladan hidup kita, kita memperkenalkan Dia kepada semua orang, supaya Dia dicintai, dimuliakan dan diterima sebagai Juru Selamat satu-satunya. Itu tugas kita!!(petrusjs.)