Artikel

21-Jan-2018

Fr. Yoseph Didik Mardiyanto

Mewartakan Kerajaan Allah

sumber: https://carekaindo.files.wordpress.com/2018/01/21-jan-2018.jpg?w=1108

Tiba-tiba saja, ingatan saya ‘pulang-kembali’ pada pertengahan tahun 2005, ketika saya (dan 67 rekan lain) masuk pertama kali ke Seminari Menengah St. Petrus Canisius Mertoyudan. Kala itu, saya diantar oleh bapak dan ibu. Saya, waktu itu, sungguh merasa takut untuk ditinggal, karena baru waktu itu, mesti hidup berjauhan dengan orang tua. Tentu harus belajar mandiri, segala sesuatu dilakukan sendiri. Yang saya kagumi, teman-teman saya berasal dari berbagai tempat dan daerah, dari desa dan kota. Hal ini saya simpulkan secara sederhana dari wajah, penampilan, cara berbicara, logat bahasa dan tentu saja, kalau kemudian harus berkenalan, satu demi satu. Berhadapan dengan teman-teman yang berasal dari beragam latar belakang tersebut, kadang saya merasa minder, karena saya sendiri berasal dari desa, atau tepatnya ‘anggun’ (anak nggunung –red), dari keluarga sederhana dan kemampuan diri yang pas-pasan. Teman-teman yang lain, sejauh saya tahu kemudian, adalah mereka dari kota, keluarga yang mampu, dan memiliki banyak kemampuan serta bakat. Namun, dalam perjalanan waktu, toh saya tetap bisa menjalani kehidupan bersama, karena pada dasarnya, yang mempersatukan kami semua adalah upaya untuk mengarungi sebuah cara hidup yang sama: ‘menjawab panggilan Tuhan’ untuk mewartakan Kerajaan Allah. Namun, sayang seribu sayang, ketika waktu berselang, satu demi satu dari kami ahirnya ‘pulang’ dan menemukan cara hidup yang lebih sesuai di luar seminari. Mereka ini telah menemukan jalan yang ‘pas’ dan tepat untuk mewartakan Kerajaan Allah dengan bakat dan kemampuannya masing-masing. Saya menyebut bahwa mereka ini bukan gagal, tapi memang menemukan kehendak Allah melalui berbagai macam cara. Panggilan Allah adalah sebuah tanggapan dan jawaban, dan rekan-rekan saya yang memutuskan untuk mundur ini pun, tetap menanggapi dan menjawab panggilan Allah, dengan sarana yang lebih cocok dengan hidup mereka.

Injil hari ini, mengkisahkan tentang misi Yesus untuk mewartakan Kerajaan Allah di dunia. Namun, Dia tidak sendiri, dan meminta keterlibatan dari manusia. Maka, di awal karyaNya, Dia sendiri memilih rekan-rekan kerja, yaitu dalam diri Petrus, Andreas, Yohanes, dan Yakobus. Mereka inilah murid-murid ‘pertama’ Yesus. Mereka ini menerima panggilan dari Yesus, berdasarkan cara dan pengalaman hidup masing-masing orang. Namun, karena umumnya manusia dipenuhi dengan kelemahan dan kerapuhan, Yesus pun punya cara tersendiri untuk memanggil murid-muridNya. Ketika mengadakan pemilihan tersebut, Yesus memilih orang-orang yang justru berlatar belakang ‘biasa-biasa saja’, atau bahkan tidak masuk kriteria kepantasan menurut ukuran manusiawi. Namun, pilihan Allah tidak pernah menggunakan logika manusia. Panggilan yang dialami oleh Petrus, Andreas, Yohanes dan Yakobus, mengingatkan kita akan panggilan hidup yang kita jalani untuk mewartakan Kerajaan Allah, dengan segala sesuatu yang kita miliki dan kerjakan sekarang. Murid-murid Yesus yang ‘pertama’ adalah orang-orang yang sederhana, namu bersedia ‘meninggalkan’ pekerjaan mereka dan segera mengikuti Yesus. Hal inilah yang sekiranya menginspirasi banyak orang untuk melakukan hal yang sama: meninggalkan segala sesuatu (termasuk cara pandang bahwa kita manusia lemah dan rapuh), untuk memberikan diri seutuhnya kepada Allah. Kita, tentu bukanlah orang-orang seperti Petrus, Andreas, Yohanes dan Yakobus, dalam mengikuti panggilan Allah, apalagi mesti memberi tanggapan yang sama persis seperti mereka. Allah juga tidak menuntut dan menetapkan target kepada masing-masing orang. Namun, yang terpenting dari semuanya adalah kesediaan dan pengorbanan serta keyakinan bahwa panggilan untuk mewartakan Kerajaan Allah sungguh datang dari Allah sendiri, dan biarlah Allah sendiri yang menggenapinya.

Maka, seperti para murid yang ‘bergegas’ dan meninggalkan pekerjaan mereka untuk mengikuti Yesus, kita pun diajak untuk ‘bergegas’ mengikuti Dia, dalam arti bahwa segala sesuatu yang kita lakukan, semata-mata adalah demi mewartakan Kerajaan Allah, yang kadang ‘tersembunyi’ dalam hati dan segala peristiwa manusia.

Selamat pagi dan selamat berhari Minggu, selamat menanggapi panggilan Allah dengan sepenuh hati. Tuhan Memberkati. (Fr. Yoseph Didik Mardiyanto)