Artikel

13-Jul-2014

Romo A. Kurniadi

Keluarga Tanah Subur Iman

Keluarga Tanah Subur Iman
Keluarga menjadi pondasi dasar dari sebuah bangunan rohani, keluarga menjadi penabur dan media awal bagi tumbuh kembangnya sebuah bangunan. Banyak hal yang bias dilakukan keluarga bagi tumbuh kembangnya iman, bagi kesuburan tanah yang membuat gereja memiliki rasul rasul yang beridentitas katolik dan berdaya tahan. Bagaimana caranya tergantung dari setiap orang yang mengikrarkan kaul kesetian terhadap pasangannya, serta menerima pasangannya itu dalam suka duka hidup mereka.


Ladang Kaul Suami dan Isteri
Berbicara tentang kaul tentu banyak yang melirik kepada mereka yang berjubah, kaum berjubah baik itu imam maupun biarawan biarawati. Secara langsung mereka yang berkeluarga pun mengucapkan hal yang essensinya sama yaitu kaul kesetiaan, kaul tak terceraikan. Dua kaul ini membuat mereka
saling terikat satu dengan yang lain. Kaul itu menjadi ladang yang membuat suami dan isteri
bergulat dalam pengalaman mereka sebagai pasangan suami dan isteri sepanjang hidup mereka, di dalamnya mereka menggalami berbagaimacan tantangan yang tidak sedikit, ada yang menghasilkan berlipat ganda, ada yang setengah, bahkan ada yang tak menghasilkan apapun. Buah dari kaul suami dan
isteri ini nampak dalam kehidupan bermasyarakat, tak jarang menjadi bahan inspirasi yang menarik dalam masyarakat. Salah satu ladang garapan yang menarik untuk digarap oleh suami dan isteri jaman sekarang adalah pendidikan anak. Anak yang dilahirkan dalam keluarga-keluarga katolik saat ini adalah benih yang siap tabur, setiap anak memiliki tingkat bawaan sendiri-sendiri. Yang menarik dalam pendidikan anak
jaman sekarang adalah metode keteladanan. Keteladanan menyebabkan anak meniru banyak hal yang dilakukan oleh kedua orang tuanya, anak juga mendokumentasikan apa saja yang dilakukan orang tua mereka secara sempurna. Maka pada tahap tertentu anak akan bereaksi dengan kata maupun bahasa
tubuhnya saat apa yang dikatakan oleh orang tua itu tak sesuai dengan apa yang dilihat oleh si anak. Keteladanan merupakan ladang istimewa bagi si anak, karena anak melihat bagaimana orang tuanya jatuh bangun untuk berdoa setiap hari, anak melihat bagaimana orang tua jatuh bangun untuk bisa pergi ke gereja pada hari minggu, inilah keteladanan yang menyebabkan anak menilai, kedua orang tuanya memiliki keberanian untuk bertekun dalam iman serta bertekun dalam kaul sebagai suami dan isteri walaupan tawaran dunia memikat hatinya untuk berbelok arah.

 

Berdaya Tahan Berdaya Pikat
Ajaran Yesus menjadi perumpamaan yang menghatar saya yang mendengarkanya membangun sikap mengidentikkan diri kita menjadi apa, perumpamaan ini juga menghantar saya pada kebulatan tekat yang membaja untuk mewujudkan hadirnya kerajaan Allah yang membawa sukacita bagi banyak orang disekitar kita.

 

Berkah dalem
Romo Albertus Kurniadi