Artikel

17-Aug-2014

Fr. Nanang

Integritas Diri dan Kemerdekaan

Alkisah ada seorang raja bijaksana mengadakan sayembara yakni bagi siapapun yang berhasil mencuri sesuatu yang berharga di istananya namun tanpa diketahui siapapun akan dinikahkan dengan putrinya. Tentunya istana akan dijaga ketat oleh banyak pengawal. Akhirnya banyak pria dari berbagai kalangan mencobanya hingga akhirnya ada tiga pria yang berhasil masuk seleksi akhir. Pria pertama mengatakan bahwa telah berhasil mencuri sekotak berlian milik ratu. Namun Sang Raja menolak hasil tersebut meski memang benar berlian itu telah berhasil dicuri dan pria itu pun dipenjara. Pria kedua mengaku telah berhasil mencuri mahkota milik raja semalam namun nasibnya pun akhirnya sama dengan pria yang pertama. Akhirnya pria yang ketiga datang tidak membawa apapun. Lantas raja pun bertanya padanya mengapa ia tidak membawa barang hasil curian. Ia pun dengan mantap menjawab, “Paduka, tidaklah mungkin seseorang dapat mencuri tanpa diketahui siapapun karena setidaknya ada yang mengetahui tindakan itu yakni diri kita sendiri.” Akhirnya, raja yang bijaksana itu pun tersenyum dan menyambut dengan gembira pemuda yang jujur ini menjadi menantunya.

Hari ini kepada kita disajikan kisah Yesus yang dengan bijaksana membalikkan keadaan ketika diserang oleh kaum Farisi lewat pertanyaan yang menjebak. Pada bacaan Injil, dikisahkan Yesus menghadapi sebuah tes lain dari orang-orang Farisi. Mereka berupaya menjerat Yesus dengan pertanyaan yang jika tidak bijak dan hati-hati bisa menjadi blunder bagi Yesus dan menjadi sasaran empuk bagi mereka yang hendak mencari kesalahan-Nya. Namun, rupanya Yesus menangkap maksud itu dan menjawab tepat pada sasaran sambil memperhatikan keadaan masyarakat Yahudi saat itu. Yang dimaksudkan Yesus dengan memberikan pada Kaisar apa yang menjadi hak Kaisar dan pada Allah apa yang menjadi hak Allah sebenarnya adalah sebuah sindiran yang menohok para kaum Farisi itu. Sebab, mereka yang sebenarnya anti pemerintahan penjajah Romawi itu pun memungut pajak juga dari rakyat Yahudi dengan dalih pajak bagi Bait Allah yang dikenal dengan persepuluhan.

Jawaban Yesus yang cerdas dan bernas itu akhirnya justru menjadi sebuah blunder bagi kaum Farisi. Dengan jawaban itu Yesus menghadapkan mereka dengan problem integritas diri yang sebenarnya mereka pun lalai menjalankannya. Artinya, Yesus hendak membuat mereka berkaca dan mempertanyakan dulu apakah mereka sungguh dengan jujur telah menjalankan olah kesalehan dan hidup beragama yang seharusnya? Rupanya olah kesalehan dan hidup beragama mereka juga tidaklah sempurna dan bahkan jatuh pada kemunafikan. Dengan dalih agama, kaum Farisi mencoba mempertahankan kenyamanan hidup mereka sendiri dan justru membuat masyarakat Yahudi menjadi jauh lebih tertindas.

Pada hari ini, kita merayakan hari kemerdekaan sebagai bangsa yang berdaulat. Sebagai bangsa yang merdeka kita diajak untuk menghayati dan menghidupi kemerdekaan itu dengan mengusahakan kesejahteraan semua, menjaga kesatuan bangsa dan negara, menghargai perbedaan sebagai kekayaan bangsa, melaksanakan apa yang menjadi kewajiban kita, memperjuangkan hak-hak pribadi dan orang lain. Kita memohon rahmat dan berkat bagi para pemimpin bangsa ini supaya mereka memimpin bangsa ini dengan arif bijaksana, melindungi dan mengayomi kepentingan rakyat,  membela yang lemah dan mengupayakan kesejahteraan bersama.

Setiap tahun kita merayakan pesta kemerdekaan kita sebagai bangsa Indonesia, berbagai kegiatan dan lomba dilaksanakan untuk memeriahkan hari kemerdekaan, bendera dikibarkan, lagu-lagu kebangsaan dikumandangkan, jasa para pahlawan dikenang kembali setiap kita mengadakan upacara bendera. Akan tetapi, apa makna  dan dampak perayaan hari kemederkaan tersebut?  Apakah seluruh rakyat sungguh sudah hidup dalam kemerdekaan dan menikmati kemerdekaan tersebut? Atau jangan-jangan itu semua hanya seremonial belaka, rutinitas tahunan saja daripada tidak ada kegiatan yang bisa mengumpulkan warga RT/RW atau bahkan mungkin di gereja kita? Semoga saja tidak.

Lantas apa yang bisa kita lakukan sebagai upaya mengisi kemerdekaan sebagai seorang Katolik dan sebagai warga negara Indonesia. Berkaca dari jawaban Yesus tadi setidaknya kita bisa mengisi dan menghidupi kemederkaan kita dengan melaksanakan apa yang menjadi kewajiban kita sebagai warga negara, membayar pajak kepada negara sebagai perwujudan rasa keadilan, sikap mau berbagi dengan orang lain. Yang memiliki banyak dituntut untuk memberi banyak, membayar pajak lebih besar. Ini adalah bentuk solidaritas dan subsidi silang, sehingga semua warga  negara dapat hidup sejahtera. Sebagai warga negara kita diajak untuk melaksanakan kewajiban kita, menghargai hak orang lain dan menuntut apa yang menjadi hak pribadi.

Allah menuntut dari kita sebuah ketaatan; membiarkan Dia memimpin hidup kita; Ia pantas dicintai lebih dari segalanya. Dalam rangka merayakan hari kemerdekaan ini semua diajak untuk semakin menyadari hak-hak dasar sebagai manusia, kita pun diajak untuk melepaskan dari dari kelekatan pada kebiasaan-kebiasaan buruk, menghidupi kemerdekaan dan kebebasan kita disertai tanggung jawab dan melaksanakan apa yang menjadi kewajiban kita. Begitulah orang yang telah merdeka; terlepas dari penindasan akan nafsu-nafsu buruk dalam dirinya; tidak menjadi budak melainkan menjadi tuan atas dirinya sendiri dan mampu mengintegrasikan antara pikiran, hati, perkataan, dan perbuatan. Selamat menjadi orang merdeka!! (Fr. Agustinus Nanang)