Artikel

24-Aug-2014

Fr. Agustinus Nanang

Pilih Ori atau KW...???

Jika kita mau jujur dan teliti mengamati, salah satu hal yang menandai realitas sosial masyarakat zaman ini adalah budaya imitasi atau tiruan. Mengapa demikian? Karena begitu banyak dari masyarakat kita yang sudah tidak malu lagi hidup pada suatu obsesi terhadap barang-barang atau mode tertentu yang sedang nge-trend. Namun mungkin karena ketidakmampuan finansial dan pelbagai alasan lain mereka rela memiliki barang tiruan yang asal mirip itu. Tujuannya tak lain adalah agar memperoleh pengakuan dari orang lain bahwa ia mampu eksis dengan menggunakan atau memakai barang-barang yang sedang nge-trend itu. Maka tak heran pula, barang-barang tiruan alias barang KW begitu membanjiri di pasaran kita. Tapi biarlah itu menjadi pilihan dan keputusan masing-masing orang dan kita tak perlu pusing dibuatnya.

Otentisitas, orisinalitas, atau keaslian sesuatu menjadi suatu wacana atau diskusi yang selalu ramai diperbincangkan. Di satu sisi orang merasa sah-sah saja melihat sesuatu itu asli atau tidak. Namun di sisi lain, ada pula yang begitu keukeuh mempertahankan atau membanggakan keaslian. Jika kita merasa tidak ada masalah dengan maraknya barang-barang KW atau barang tiruan yang beredar di pasaran dan memiliki peminat yang tinggi, lantas bagaimana dengan soal iman kita? Jika anda merasa nyaman dan tidak masalah dengan iman KW atau iman tiruan maka sebaiknya anda bertanya pada diri anda sudah beriman sejauh mana selama ini.

Hari ini Injil menyuguhkan kepada kita dialog legendaris antara Yesus dengan Petrus sebagai wakil para rasul. Dikatakan legendaris karena dialog ini membuka kepada kita rahasia ke-Allah-an Yesus melalui iman Petrus sebagai murid. Dan sebagai orang Katolik kita memang menerima dan menghidupi iman yang berasal dari para rasul. Dikatakan legendaris karena dialog ini menuntut suatu pemeriksaan batin yang jauh lebih dalam dan serius pada diri Petrus dan para murid sebagai orang-orang yang dipilih mengikuti Yesus. Dengan kata lain, keimanan Petrus ditantang! Dan jawaban yang Petrus berikan adalah jawaban yang jujur, asli, dan otentik. Kejujuran Petrus menjawab dengan gamblang siapa Yesus itu menunjukkan kepada kita suatu pengalaman iman yang langsung bersentuhan dengan Sang Guru. Artinya, sosok Yesus sungguh mendapat tempat yang khusus dan istimewa dalam hidup Petrus. Ia  tidak terpengaruh dengan jawaban atau penjelasan orang lain tentang siapa Yesus meski terkesan hebat, mengagumkan, dan luar biasa. Sedangkan orang-orang pada zaman itu menyangka Yesus adalah orang dari golongan para nabi yang mampu melakukan serangkaian perbuatan hebat dan mencengangkan.

Lantas bagaimana jika kita yang ditanya seperti halnya Petrus? Secara refleks, mungkin kita akan menyiapkan berbagai jawaban atau rumusan iman yang hebat atau setidaknya yang manis-manis. Salahkah? Tentu tidak. Tapi alangkah lebih baik jika keimanan yang kita miliki itu berdasarkan dengan hubungan pribadi kita langsung dengan Allah. Keimanan yang otentik adalah keimanan yang berasal dari cara kita melihat dan menempatkan Allah dalam setiap sisi hidup kita, entah saat kita senang maupun saat kita menerima kesulitan hidup. Dari situ biasanya terpancar atau muncul kualitas keimanan yang sebenarnya sebab pengalaman akan Allah pada setiap orang itu berbeda-beda. Iman otentik adalah iman yang sungguh datang dari pengalaman diri sendiri dengan Allah dan bukan melirik apalagi menjiplak pendapat orang.

Adalah percuma jika kita memiliki jawaban atau rumusan iman yang hebat-hebat tentang siapa Yesus bagi hidup kita tapi hidup yang dijalani tidak mengungkapkan iman itu sendiri. Iman yang otentik kepada Allah selalu dapat diungkapkan dalam hidup sehari-hari baik dalam keluarga, kantor, sekolah, pasar, dan tempat dimana kita biasa beraktifitas sebab dalam setiap sisi kehidupan Tuhan Allah selalu membuka kesempatan kepada kita untuk menyatakan dan mewujudkan keimanan itu. Hal ini juga berlaku sebaliknya; yakni kita pun sebenarnya dimampukan untuk melakukan itu semua oleh karena iman. Pertanyaannya, sudah otentik, orisinal atau aslikah imanku pada Allah? Atau ketika kita sebenarnya telah dimampukan untuk mengungkapkannya, kita mau atau tidak ya? (Fr. Nanang)