Artikel

07-Sep-2014

Fr. Nanang

Ketika Teguran Memanusiakan Manusia

Seorang guru bertanya pada muridnya, " Menurutmu, apakah lawan dari cinta?" Sang murid secara spontan menjawab, "Benci!" Lantas sang guru menimpali, "Apakah kau yakin?" Lalu sang murid dengan tegas menjawab, "Sangat yakin, bagiku ketika kita membenci seseorang berarti kita tak lagi menyukainya dan ingin menjauh darinya." Sang guru pun tersenyum. Ia mendekati muridnya tersebut dan menepuk pundaknya lalu tersenyum. Setelah itu ia berkata pelan, "Nak, bagaimana dengan sikap mengacuhkan orang yang kau benci itu? Lebih besar mana efek membenci dengan mengacuhkan?"

Sebagai orang beriman, kita dibentuk menjadi suatu persekutuan atau communio yang ditandai dengan baptisan. Konsekuensinya, kita digabungkan menjadi anggota komunitas keluarga besar Gereja Katolik. Namun tak jarang dalam hidup berkomunitas, friksi atau ketegangan bermunculan dalam perjalanan hidup. Tak jarang pula kita dibuat geram dan kesal atas ulah mereka yang mungkin memang nyata-nyata salah. Masalahnya yang sering terjadi adalah kita justru jatuh pada kebencian dan rasa benci itu seringkali diumbar atau diungkapkan pada banyak orang. Padahal, jika kita mau jujur dan teliti, sikap atau rasa benci tak lain adalah sebuah sikap atau rasa mencintai juga. Sebab ketika membenci, perhatian atau konsentrasi kita sering kali tersedot pada orang yang tidak disukai itu. Begitu banyak waktu yang tersita untuk  memperhatikan orang yang dibenci itu. Sejatinya, kebencian seringkali hanya berkutat dalam perkara saya tidak menyukai seseorang, tidak ingin melihat secara fisik saja, atau tidak ingin punya hubungan lagi. Lalu bagaimana soal pikiran kita padanya? Apa ada yang bisa menjamin bahwa kita tak pernah lagi memikirkannya? Jauh lebih mengkhawatirkan atau mengerikan daripada membenci sebenarnya adalah mengacuhkan. Mengacuhkan berarti menganggap seseorang itu tidak ada atau bahkan tidak pernah ada. Ketika orang dianggap tidak pernah ada artinya harkat-martabat dan eksistensinya sebagai manusia itu lenyap. Orang yang diacuhkan bisa dikatakan bahwa ia ada secara fisik namun dia dianggap tidak pernah menjadi manusia. Maka sebenarnya kekuatan mengacuhkan atau mengabaikan tatkala seseorang tidak menyukai terhadap seorang yang lainnya itu sungguh mengerikan.

Injil hari ini memberikan solusi ketika kita menghadapi konflik dengan sesama melalui pelbagai kesempatan dan juga mediasi. Semua itu dilakukan dalam konteks mencintai dan mengasihi saudara-saudari kita yang melakukan dosa atau kesalahan. Maka jika ada seseorang yang bersalah, ajak bicaralah ia baik-baik. Tentunya gunakan juga adat kebiasaan yang santun dan bukan menjadikan kesempatan itu untuk menghakimi secara membabi buta. Teguran tentu bukan ungkapan kebencian apalagi mengacuhkan. Sebaliknya, teguran adalah ungkapan kasih karena ia tidak meniadakan kehadiran seseorang melainkan hendak mengajaknya kembali pada jalur yang seharusnya. Ketika kita telah mampu melakukan itu, sebenarnya kita telah memanusiakannya sebagaimana mestinya. Maka marilah kita tangkap bacaan ini sebagai sebuah momen untuk membentuk pola relasi kita dengan orang lain sebagai sesama umat beriman. (Fr. Nanang)