Artikel

14-Sep-2014

Fr. Nanang

Salib Sebagai Sapaan Allah

Konon, orang-orang zaman sekarang mengidentikkan kesuksesan dan kegemilangan hidup berdasarkan apa yang telah mampu dicapai, diraih, dan dimiliki. Ketika segala sesuatu yang ada itu seakan mampu ditaklukan maka tidak tanggung-tanggung lagi predikat kesuksesan akan disematkan padanya. Senada dengan hal tersebut berarti segala macam penderitaan dan kehidupan yang menyusahkan adalah simbol bagi tidak bahagia atau suksesnya seseorang. Pada titik itu, penderitaan seakan menjadi momok yang menakutkan dan mimpi buruk bagi potret kehidupan manusia moderen. Bahkan, kalau bisa, penderitaan hendak dihilangkan akan tetapi kesenangan, kegembiraan, serta segala hal yang bernada kesuksesan harus diangkat tinggi-tinggi dan mendapat tempat yang istimewa. Lantas bagaimana jika keadaannya tidak melulu sesuai dengan kehendak dan keinginan kita? Apakah kita akan mengutuki kehidupan dan bersumpah-serapah atas apa yang terjadi pada hidup kita?

Saudara-saudari yang dikasihi Kristus, pada hari ini kita merayakan pesta Salib Suci. Jika kita perhatikan, sejak kita kecil hingga kita akan masuk ke liang kubur, salib menjadi tanda yang begitu familiar dalam hidup rohani Katolik. Ketika akan dibaptis kita dibubuhi tanda salib pada dahi, setelah dewasa kita membuka dan menutup doa dengan tanda salib, dan akhirnya ketika akan masuk liang kubur salib akan dipasang di atas pusara kita kelak. Di lain pihak, orang kerap kali menyebut salib dalam konteks ketika menerima masalah, beban, penderitaan, dan semacamnya dengan berkata, "mungkin ini salib yang harus kupikul sendirian". Maka kita dapat mengatakan bahwa dalam salib ada kontras yang terjadi manakala kita memiliki harapan akan sesuatu yang menyelamatkan dan ketika kita mengalami hal yang tidak mengenakkan. Jika begitu, bagaimana kita harus memandang penderitaan?

Pada bacaan kedua, kita memperoleh inspirasi dari rasul Paulus yang hendak menjelaskan pribadi Yesus yang justru tidak mengandalkan kemahakuasaanNya sebagai Putra Allah. Yesus justru mengambil jalan sebagai manusia yang rapuh dan kecil lalu mengosongkan diri sebagai manusia. Pengosongan diri yang dimaksud adalah tidak mengandalkan kekuatan Dirinya sendiri melainkan membiarkan Dirinya menjadi hampa, kecil, dan lemah sehingga membiarkan Allah sendiri yang mengisiNya dan memampukanNya melaksanakan tugas perutusan di dunia ini. Singkatnya, Yesus justru dengan rendah hati mau menjadi manusia seutuhnya yang mengalami sakit, sedih, dan akhirnya juga mati. Yesus justru mau menempuh jalan yang tidak enak dan menerima penderitaan sebagai suatu cara menyelamatkan manusia. Dengan kerendahan hati Yesus menyerahkan segala kemahakuasaanNya dan menerima dengan bebas-sukarela jalan sebagai manusia. Hal itu ditempuh hingga akhirnya Ia pun harus taat pada BapaNya sampai mati di salib.

Pada pengertian itu, Yesus mengajarkan kepada kita untuk rendah hati pada apapun yang terjadi dalam hidup ini. Konteks penderitaan dan salib yang tidak mengenakkan dipakai Yesus sebagai paradigma yang sungguh kontras yakni dengan menerima dan mengamini semua itu sebagai bagian hidup manusia yang sesungguhnya. Bahwasanya penderitaan adalah bagian hidup yang tidak bisa dielakkan adalah suatu kepastian. Namun, dari situ kita ditantang untuk mengadakan suatu revolusi berpikir yang menjadikan salib atau penderitaan sebagai momen untuk menjalin relasi yang lebih intim lagi dengan Sang Pemilik Hidup ini. Maka bersyukurlah kita tatkala salib dan derita menyambangi hidup karena disana Allah mau hadir dan menyapa kita yang dicintaiNya ini. Tuhan memberkati. (Fr. Nanang)