Artikel

21-Sep-2014

nn

Gaya Hidup Beriman

Dalam arus zaman yang bergejolak ini rupanya melahirkan banyak ragam manusia yang tertantang untuk menampakkan diri. Kadang kala, bagi sebagian orang, yang dilihatnya itu mengherankan dan menghadirkan decak kagum. Bisa dimaklumi karena ekspresi yang ada itu mencerminkan apa yang dipikirkan, diperjuangkan, dan yang hendak dicapainya. Penampilan lahiriah merupakan tampilan batin manusia yang hendak menuju Kerajaan  Allah.

Hidup manusia pada awalnya bersih tanpa noda, kebersihan ini nampak dari pola hidup manusia yang tampil apa adanya, tanpa kompetisi, menerima apa yang dihadirkan dalam hidupnya. Adanya kompetisi melahirkan berbagai macam intrik, berbagai macam strategi hidup yang bermuara pada tindakan manusia untuk mempertahankan dirinya sedemikian rupa.

Dalam bacaan hari ini Yesus menceritakan sebuah kisah, seorang saudagar kebun anggur yang membutuhkan banyak pekerja untuk kebun anggurnya. Ia sepakat dengan buruh satu dinar sehari, tapi saudagar ini berkali-kali mencari pekerja, bahkan ia keluar mencari buruh yang bekerja satu jam saja. Hasilnya sama-sama satu dinnar. Menarik bukan? Jika saya dan anda berada dalam posisi buruh pastinya akan melakukan protes atau bahkan berdemo. Ada yang tersembunyi bila kita renungkan kisah ini, bukan soal upahnya yang tak adil melainkan ada sebuah permenungan mendalam yang hendak diungkapkan dari cerita ini, yakni sungguhkah pekerjaan yang kita kerjakan hanya untuk mendapatkan upah?.

Bila dipikirkan berjumpa dengan pengalaman tentang kerja bukan untuk mendapatkan upah tetapi ada makna terdalam dari kerja yang kita buat. Kerja menghasilkan sebuah persaudaraan sejati, yang bermuara pada solidaritas. Persaudaraan dan solidaritas ini ditampakkan pada tindakkan saudagar yang memberi upah sedinar bagi semua pekerjanya, tindakkan ini didasarkan pada apakah kita rela membiarkan saudara kita ini menikmati malam dengan perut kosong.

Dasar yang dibangun oleh Yesus dalam perumpamaan ini adalah gaya hidup masyarakat saat ini yang berlandaskan pada ego untuk menikmati kemenangan diri sendiri. Ego macam ini membuat manusia mengalami persaingan di segala segi kehidupannya. Persaingan membuat manusia lupa siapa dirinya serta siapa saudaranya. Dalam perumpamaan ini Yesus mendasarkan ajarannya pada satu tindakkan manusia yang rela membersihkan banyak hal dalam perziarahnya agar manusia tak dibelenggu oleh tindakan yang membuat manusia menciptakan satu persaingan yang membuat ruang batin manusia tak mampu menentukan arah hidup yang cerah.