Artikel

28-Sep-2014

Fr. Nanang

Say No To Being "PHP"

Di kalangan kawan-kawan muda sekarang, beredar istilah PHP yang tidak lain adalah sebuah singkatan dari kalimat Pemberi Harapan Palsu. Istilah tersebut sering diucapkan manakala seseorang tak menepati janjinya atau seakan memberi kode akan menepati apa yang pernah diucapkan tapi ternyata toh hanya omong doang. Tak jarang mereka yang diberi harapan palsu itu lantas kecewa atau bahkan ngambek. Begitu pula sang pelaku yang memberi harapan palsu itu pun tak ayal lagi menjadi sasaran kemarahan bahkan juga mungkin kebencian.

Para pembaca yang budiman, Injil hari ini rupanya sedikit banyak juga hendak menyentil kita tatkala janji atau komitmen sebagai orang beriman direnungkan kembali. Sebagai orang beriman, pilihan mengikuti Yesus pada dasarnya adalah sebuah pilihan atas pelbagai macam tawaran yang ada. Ketika kita berkeyakinan untuk mengikuti Yesus dan menjadikanNya sebagai pegangan hidup maka sudah sewajarnya jika apa yang dikehendakiNya itu kita jalankan. Namun yang terjadi seringkali tidak seperti itu tho? Bacaan Injil hari ini rupanya juga hendak menyentil sisi-sisi kecil hidup beriman kita yang kadangkala dianggap sepele dan remeh namun sebenarnya penting juga untuk disikapi kembali. Setidaknya Injil hari ini mau mengungkapkan bahwa hidup beriman itu perlu dipupuk, dijalani, ditekuni, serta dihayati dan itu merupakan suatu usaha yang tidak pernah mengenal kata selesai. Ketika kita mengaku merasa sudah cukup banyak meluangkan waktu untuk hidup beriman dan tak perlu berbuat lebih baik lagi maka kita sebenarnya sedang memangkas karya Allah yang selalu siap membuat hidup kita jauh lebih bermakna.

Jika mau jujur, perumpamaan yang dikisahkan dalam bacaan Injil ini sedikit banyak mungkin juga kerap kita lakukan dalam hidup sehari-hari. Sebagai seorang Kristen tentu kita tahu dan sadar bahwa ada serangkaian tuntutan yang memang dikenakan kepada kita sebagai konsekuensi etis mengikuti Yesus. Namun tak jarang pula kita dengan sadar tidak mengindahkan apa yang sudah menjadi tuntutan dan kewajiban itu. Singkatnya, hidup keagamaan dan ketidaktaatan yang membuahkan dosa berjalan beriringan. Padahal, setiap malam Paskah kita diajak memperbarui janji baptis dengan serangkaian pertanyaan yang mau mengungkapkan kesediaan memperbarui diri terus-menerus untuk melawan arus kedosaan dalam hidup ini. Kiranya pertanyaan itu bukan hanya pelengkap belaka dalam liturgi malam Paskah lho!!

Siapapun kiranya sepakat dan setuju bahwa tidak ada yang senang jika diberi harapan palsu. Siapapun pastinya juga tidak akan senang jika hanya mendapat janji-janji kosong. Begitu juga dengan Allah Bapa kita. Ia pun tidak senang dan bahkan sedih jika apa yang telah ditawarkan oleh PutraNya itu lantas disia-siakan. Tawaran keselamatan yang telah diberikan oleh PutraNya lewat sengsara, wafat, dan kebangkitanNya itu terlalu berharga untuk tidak disambut dan dimaknai sebagai sebuah karya keselamatan bagi hidup kita. Dia yang MahaBaik itu masih menunggu kita menepati janji-janji dan kesediaan-kesediaan kita untuk mengikutiNya lewat cara kita hidup; berpikir, berbicara, dan bertindak. Semoga kita tidak lantas betah dan nyaman menjadi pribadi-pribadi yang gemar berjanji saja pada Dia yang Empunya hidup ini. Semoga pula Roh Kudus memampukan kita untuk menjalankan apa yang Ia kehendaki. Semoga!! (Fr. Nanang)