Artikel

05-Oct-2014

Fr. Nanang

Bermutu Itu Berjerih Payah

Dalam hidup keseharian, ada begitu banyak kelompok dan komunitas yang kerap kali diidentikkan dengan suatu lambang atau identitas-identitas tertentu. Tentunya identitas, lambang, atau atribut yang disandang itu hendak menggambarkan kepribadian atau ideologi kelompok tersebut. Pelbagai atribut, lambang, sesanti, atau apapun itu yang hendak menjelaskan jati diri suatu kelompok  biasanya dikenakan sebagai suatu identitas yang khas dan unik sehingga orang lain langsung bisa mengenali kelompok atau komunitas tertentu itu. Maka konsekuensi bagi para pengikut komunitas tersebut adalah sebisa mungkin juga menampilkan diri seturut dengan ideologi, arah dasar, atau visi misi dari komunitas yang diikutinya tersebut. Kadang, ada yang beranggapan bahwa anggota komunitas yang loyal dan bermutu adalah mereka yang dengan gigih menjalankan segala sesuatu dalam komunita itu secara habis-habisan.

Bacaan Injil hari ini rupanya juga hendak mengajak kita merenungkan hal yang mungkin sedikit banyak sering kita abaikan, entah disengaja atau tidak, yakni perihal identitas sebagai pengikut atau murid Kristus. Identitas kemuridan itu adalah apa yang hendak diungkapkan dalam Injil hari ini yakni dimana kita sudah sepatutnya dan selayaknya menghayati pilihan dan panggilan sebagai murid itu. Masalah identitas bukan bagaimana memakai kalung salib, memasang patung Yesus dalam mobil, atau seringnya mendengarkan lagu rohani. Jauh lebih dalam, perihal identitas sebenarnya adalah perkara jati diri yaitu dimana wilayah yang sifatnya ada di dalam batin itu ditampakkan secara eksplisit dalam setiap dimensi kehidupan kita. Jika kita mengaku sebagai orang yang tertebus atau terselamatkan maka inti Injil hari ini hendak menyinggung soal siapa dan bagaimana seharusnya sikap dasar sebagai orang yang tertebus dan terselamatkan oleh Sang Kristus itu sendiri.

Para pembaca yang budiman, adakalanya mungkin kita bosan, jenuh, atau bahkan muak dengan begitu banyak nasehat dan renungan yang sering kita dengar tentang hidup yang baik dan saleh. Jika kita mau jujur dan rendah hati, kita pun lantas akan menuding orang yang memberi nasehat itu sebagai orang yang omong doang. Kita akan dengan tangkas akan berujar padanya "memangnya hidupmu sudah lebih baik dan paling sempurna?" Lantas bagaimana jika begitu? Persoalannya sebenarnya adalah bukan soal nasehatnya tapi apakah nasehat dan renungan yang selama ini diberikan sudah ada yang nyantol dan dijalankan atau belum? Maka dari itu, sebenarnya pertanyaannya pun dapat dibalik, "jika diingatkan saja seringkali lupa dan tidak dijalankan, bagaimana jika tidak pernah atau jarang diingatkan?"  Perumpamaan tentang kebun anggur adalah gambaran diri kita yang siap diolah menuju kesatuan hati dan kehendak dengan Sang Pencipta. Di dalam kedalaman hati itulah Allah bersemayam dan bekerja melalui hati nurani, akal budi, dan kehendak kita. Namun, karena kecondongan akan arus dosa kehadiranNya kerap diabaikan. Allah menghendaki kita menjadi partner untuk mengolah dan mengelola diri yang rapuh ini. Tentu saja, pengolahan wilayah batin itu dapat dilakukan dalam banyak cara, termasuk juga mendengarkan pelbagai nasehat rohani sebagai ikhtiar mengasah kepekaan rohani kita. Pastinya, proses tersebut hanya bisa dikatakan selesai ketika kita sudah menutup mata selamanya.

Manusia adalah mahluk yang dinamis. Ia memiliki kemampuan untuk beralih dari keadaan yang terpuruk menuju keadaan yang lebih baik. Begitu juga ketika manusia mengalami saat-saat ketika tidak mampu mengenali dan memahami karya Allah dalam diri dan hidupnya. Maka, kiranya melalui sabda yang kita dengarkan dan resapkan ini menjadi momen yang baik untuk menangkap dan mensyukuri karya dan rahmat Allah dalam hidup ini. Seturut itu pula kita diingatkan dan diajak untuk terus mengusahakan hidup yang menunjukkan kualitas keimanan yang bermutu sebagai identitas dan juga jati diri sebagai anggota komunitas Kristiani. Semoga dalam ikhtiar itu kita tetap gigih berusaha dan berproses sehingga jika Sang Pemilik kebun anggur datang kita tengah ditemukan sedang berjerih payah menuju kesatuan padaNya.  (Fr. Nanang)