Artikel

12-Oct-2014

RD. Kurniadi

Mari Berpesta

Renungan Minggu, 12 Okt 2014: Perjamuan Sudah Siap, Datanglah!

Kalau mendengar kata pesta, kita pasti langsung berimajinasi tentang tempat yang megah atau makanan yang serba enak. Imajinasi lainnya yang muncul mungkin adalah soal pakaian apa yang akan digunakan atau dengan siapa akan menghadirinya. Di lain sisi, pesta sering kali identik dengan sebuah penampilan sebagai bentuk syukur, penghargaan, entah terhadap orang yang mengundang maupun diri sendiri. Dengan demikian walaupun banyak kendalanya tetapi orang tetap berjuang untuk hadir dalam acara ini.

Perayaan Ekaristi Pesta Iman

Dalam setiap penampilannya, Ekaristi sejatinya selalu menjadi sebuah pesta iman yang membawa pembaharuan dari setiap orang yang merayakannya. Pembaharuan nampak dalam hidup setiap orang yang merayakan perayaan ini. Walaupun terkendala waktu, kemacetan, pekerjaan, dan urusan duniawi lainnya banyak yang mendahulukan Ekaristi dari pada yang lain.

Meski begitu, ada saja yang datang terlambat. Mungkin karena mereka tak tahu jam berapa perayaan Ekaristi dimulai atau mungkin bisa jadi mereka berasal dari paroki lain yang kebetulan mampir dan mengikuti perayaan Ekaristi. Padahal ketika pergi ke pesta yang dilaksanakan, entah dimanapun itu, kita berusaha untuk datang tidak terlambat; datang dengan membawa sesuatu yang berharga apapun itu bentuknya. Dalam perayaan Ekaristi undangan  tidak datang dari orang lain melainkan undangan itu datang dari Yesus sendiri “datanglah kepadaku kamu semua yang letih berbeban berat.” Maka pantaslah kalau dalam perayaan Ekaristi kita datang dengan hati yang mau bersyukur; hati yang mendamba nasehat rohani dari sabda Allah yang menawarkan jalan kebenaran dan hidup.

Dalam bacaan Injil kali ini, Yesus menggambarkan sebuah perumpaan yang mengajak kita untuk melihat dalam kacamata iman; saya termasuk orang yang macam apa dalam menanggapi undangan Allah. Apakah saya termasuk orang yang mengatakan ya kepada undangan Allah ini dengan segala peristiwa kehidupan kita? Ataukah kita hadir dengan setengah hati bahkan datang dengan keadaan yang tak pantas? Sebenarnya dalam situasi pantas atau tidak, bukanlah merupakan sebuah kendala sebab Yesus hadir, berdoa, bahkan berkorban bagi kita dalam tabernakel rohani kita. Dalam ketidakpantasan banyak orang berpikir untuk lari menjauh, padahal dalam keadaan yang tak pantas ada upaya pendamaian yakni pengakuan dosa sebelum menyambut Tubuh dan Darah Yesus. Pendamaian dapat pula dijalankan dengan puasa satu jam sebelum menyambut Tubuh dan Darah Yesus, sehingga persiapan ini tidak hanya mempersiapkan pesta iman yang didasarkan pada tindakkan lahir semata tetapi juga sikap batin yang menemukan Yesus sebagai jalan kebenaran dan hidup.  Pendamaian dapat juga ditempuh melalui sikap datang lebih awal untuk berdoa sebab berdoa menjadi salah satu kesempatan untuk menciptakan kedamaian lahiriah karena saya mau menempatkan Yesus sebagai yang sentral; sebagai pusat hidup di dalam peziarahan selanjutnya. Sikap ini membawa perdamaian batin karena saya tak ingin mengganggu orang lain yang berdoa.

Ekaristi pun lantas membuat kita berani untuk hidup dan mempersembahkan peziarahan hidup ini kepada Yesus sebagai jalan kebenaran dan hidup yakni dengan melakukan tindakan pendamaian lahir dan batin. (RD. Kurniadi)