Artikel

19-Oct-2014

Fr. Nanang

Memberikan Hak Allah

Renungan Minggu, 19 Oktober 2014: Hak dan Kewajiban Orang Beriman

Suatu kali saya kedatangan seorang teman lama yang rupanya sudah cukup lama tidak percaya lagi dengan nilai-nilai religiusitas. Setelah tahu saya memilih jalan sebagai seorang calon imam ia pun bertanya, "Atas alasan logis apa ya orang-orang Katolik itu datang tiap hari Minggu, menghabiskan waktu satu jam bahkan lebih untuk dengerin bacaan Kitab Suci? Belum lagi khotbah pastur-pastur itu lama dan ngebosenin?" Saya pun hanya tersenyum. Saya hanya bertanya kembali padanya, "Kenapa juga ya setiap hari banyak orang ngotot untuk makan tiga kali sehari? Orang butuh libur dari pekerjaan kantornya? Orang butuh tidur setelah seharian beraktiftas?" Dia lantas menjawab, " Ya, karena tubuh manusia itu bukan robot. Dia butuh asupan nutrisi dan relaksasi atau istirahat setelah sekian banyak melakukan kegiatan". Saya pun berseloroh, "Kira-kira begitu juga jawaban yang bisa saya jawab untukmu, kawan."

Dalam hidup ini ada saja orang yang memiliki pola pikir neither-or. Artinya, orang yang memiliki pola pikir begitu, ia akan masuk dalam salah satu ekstrim pilihan tertentu (KALAU TIDAK BEGINI MAKA HARUS BEGITU). Jika seseorang memiliki pola pikir demikian, hampir dipastikan ia tidak bisa melihat celah, kesempatan, atau alternatif dari pilihan (kebenaran) yang lainnya. Hal itulah yang kita lihat hari ini dari kaum Farisi yang menjadikan dalil atau nilai religiusitas sebagai sebuah pilihan satu-satunya dalam hidup. Padahal jika mereka bersedia untuk jujur dan tidak sedang dalam upaya mencari-cari kesalahan Yesus sebenarnya mereka pun tidak setuju dan anti penjajah Romawi.

Setidaknya renungan dari bacaan Injil hari Minggu ini hendak berbicara tentang bagaimana kita diajak untuk membuat suatu skala prioritas antara hidup rutinitas keseharian dengan hidup rohani. Kita memang kerap kali disibukkan dengan pelbagai macam urusan dan aktifitas namun bukan berarti kita harus menjadi orang yang mengatakan tidak punya waktu untuk merenung dan berdoa. Terkesan klise memang, namun bukankah kita ini manusia yang punya batas kelelahan, entah secara fisik atau batin? Dalam pengertian itulah, saya menjawab pertanyaan teman lama saya di atas. Bahwa secara fisik-manusiawi maupun rohani-spiritual adalah mustahil orang bisa mengatakan tidak butuh penyegaran kembali atas segala rutinitas dan kesibukan sehari-hari. Manusia bukanlah mesin atau robot yang bisa disetting sedemikian rupa untuk bisa terus melakukan aktifitasnya. Biar bagaimanapun manusia selalu membutuhkan penyegaran yang sifatnya fisikal maupun spiritual.

Kita mungkin seringkali mencari pembenaran bahwa toh untuk urusan spiritual atau rohani itu sudah disediakan waktunya sendiri yaitu hari Minggu. Namun, betulkah bahwa waktu satu jam lebih sedikit itu telah dimaknai sedemikian rupa sebagai suatu momen berjumpa dengan Sang Pemilik Hidup ini secara khusus, mendalam, dan sungguh-sungguh? Atau adakah di antara kita semua yang masih tekun dan setia meluangkan waktu dua-tiga menit setelah bangun tidur dan sebelum beranjak tidur untuk berdoa dan berkomunikasi dengan Dia yang memberikan nafas ini? Syukur, itu semua bisa dilakukan bersama dengan anggota keluarga yang lain. Waktu yang disediakan tidaklah perlu terlalu lama namun cukup untuk kita berkomunikasi dengan-Nya atas segala pengalaman hidup yang telah dilalui dan mohon kekuatan untuk pengalaman yang akan datang. Dengan menyediakan waktu untuk Tuhan secara ikhlas dan sungguh-sungguh maka kita pun sebenarnya telah memberikan apa yang menjadi hak Allah dan membuat diri kita menjadi pribadi yang mampu bersyukur. (Fr. Nanang)