Artikel

16-Nov-2014

Fr. Nanang

Opto Ergo Sum (Aku Memilih Maka Aku Ada)

Ketika menulis renungan ini, saya teringat dengan seorang teolog berkebangsaan Denmark yang bernama Soren Aabye Kierkegaard (1813-1855). Sebagai seorang teolog, namanya sangat terkenal sehingga ia dimasukkan dalam jajaran para teolog yang bisa dibilang wajib dibahas sumbangan pemikirannya. Salah satu pemikirannya yang terkenal adalah tentang manusia; yang mengatakan bahwa kehadiran manusia di dunia ini adalah melulu soal pilihan dan keputusan. Bahwa hidup manusia itu terus menerus dihadapkan pada pemilihan-pemilihan dan pengambilan-pengambilan keputusan.

Para pembaca yang budiman, hari Minggu ini, kepada kita disajikan bacaan Injil yang akan memberikan cakrawala baru tentang hidup keimanan kita. Dalam benak kita, perumpamaan tentang talenta sedikit banyak biasanya akan berkutat tentang bakat atau anugerah yang ada pada diri kita. Namun, pada kesempatan kali ini, saya akan mengajak anda untuk menimba inspirasi dari perayaan ekaristi, yang setidaknya, setiap minggu diikuti dan dirayakan itu.

Dalam perayaan ekaristi, kita tentu tahu bahwa dalam doa syukur agung imam akan mengambil roti dan anggur, memberkatinya, lalu akan dipecah-pecahkan dan dibagikan. Pertanyaan yang akan saya ajukan adalah "apakah kita sadar, tahu, dan mau untuk meniru seperti itu?" Bahwa sebagai pengikut Kristus kita juga sebenarnya diajak untuk sadar, tahu, dan mau menyerupai Kristus dalam rupa roti dan anggur yang diambil, diberkati, dipecah dan dibagikan. Hidup yang diberikan oleh Allah ini terlalu sayang jika harus dijalani begitu saja tanpa ada pemaknaan. Maka, dalam perayaan ekaristi pula, Yesus membagi-bagi dan memecahkan diriNya dan disanalah makna hidup Kristiani yang sesungguhnya terwujud nyata. Ketika kita bisa memberikan diri bagi sesama (tentunya dalam porsi dan kapasitas yang sesuai) maka kita pun telah memulai pemaknaan hidup yang sebenarnya Kristus kehendaki. Begitu pula dalam perumpamaan tentang talenta, hamba-hamba yang baik dan setia itu juga mau melakukan sesuatu agar talenta yang diberikan kepadanya berlipat ganda? Bukankah ketika kita mau memberikan diri artinya kita juga telah mau melakukan sesuatu demi perkembangan dan kualitas kepribadian serta keimanan kita?

Diambil, diberkati, dipecah dan dibagi-bagi merupakan sebuah gambaran hidup Yesus yang ditunjukkan kepada kita sebagai murid-muridNya. Betapa Ia dengan rendah hati bersedia diambil untuk menjadi manusia, mendapat perkenanan Allah dalam peristiwa Gunung Tabor, mengadakan berbagai macam pelayanan kepada mereka yang kecil, lemah, miskin, cacat, dan tersingkirkan, dan pada akhirnya hidupNya dipecahkan dan dibagikan untuk keselamatan banyak orang dalam sengsara, wafat, dan kebangkitanNya. Maka, berkaca dari apa yang Kierkegaard katakan tentang pilihan dan keputusan, kita pun diajak merenung dan merefleksikan apakah aku mau atau tidak memberikan diri bagi sesamaku? Apakah aku mau atau tidak melakukan sesuatu bagi mereka yang membutuhkan kehadiran, perhatian, dan doaku? Apakah aku mau atau tidak membuka diri bagi segenap kelemahan dan kekurangan diriku? Apakah aku mau atau tidak menjadi sumber kegembiraan bagi sekitarku? Dan tentunya masih banyak lagi berbagai pertanyaan semacam itu yang bisa disodorkan. Dengan begitu, talenta bukan hanya soal bakat atau anugerah saja tapi juga menyangkut segala sesuatu yang berkaitan dengan perkembangan kepribadian dan kehidupan kita menuju arah yang lebih baik dan positif. Singkatnya, mau atau tidak? (Fr. Nanang)