Artikel

23-Nov-2014

RD. Kurniadi

Gaya Hidup

Manusia dalam peziarahannya senantiasa berhadapan dengan berbagai macam pilihan. Salah satu pilhannya adalah menentukan gaya hidup. Gaya hidup  yang dipilih ini bercerita banyak hal atas hidup kita. Karena gaya hidup lahir dari berbagai macam pemikiran, pergaulan, dan juga tingkat pendidikan.

Gaya Hidup
Cara berpakaian, berbicara, atau berpenampilan tidaklah lahir dari pemikiran manusia belaka. Cara berpakaian, berbicara, dan berpenampilan merupakan hasil relasi maupun hasil inkulturasi budaya. Manusia selalu berproses dengan alam sekitarnya dan proses inilah yang menghasilkan satu model hidup yang menggambarkan kepribadian di tengah percaturan dunia. Gaya hidup membutuhkan daya juang karena orang yang melihatnya belum tentu setuju dengan gaya hidup kita. Gaya hidup memberi inspirasi bagi banyak orang untuk mengembangkan idealismenya.

Gaya Hidup Yesus; Gaya Hidup Gereja
Gaya hidup seseorang tidaklah dihasilkan dalam satu waktu. Gaya hidup lahir dari relasi manusia dengan sesamanya maupun dengan alam semesta. Gaya hidup selalu membawa pengaruh yang tidak kecil dalam kehidupan bermasyarakat, karena ada nafas hidup yang dimunculkan dari gaya hidup ini. Sebagai contoh, Mahatma Gandi di India; dalam perjuangannya melarang masyarakat India untuk menggunakan produk pakaian yang dihasilkan dari luar negeri. Larangan ini membawa indikasi yang luas bahwa mencintai produk dalam negeri sungguhlah indah dan membangkitkan rasa cinta tanah air. Dalam sejarah Gereja, tokoh yang muncul ke permukaan adalah Yesus sendiri yang mengedepankan semangat hidup melayani dan memberikan diri demi sesama yang menderita. Gaya hidup macam ini merupakan gaya hidup yang luar biasa sulit di tengah banyak orang yang berlomba berpikir apa yang akan saya gunakan atau apa yang akan saya nikmati hari ini.

Bacaan hari ini mendorong kita untuk memiliki keberanian dalam  melayani. Melayani berarti mewartakan kabar gembira Kristus. Karena melayani membuat banyak orang dihembusi semangat hidup yang baru. Semangat hidup baru ini nampak pada satu kesadaran bahwa melayani bukan merupakan perkara yang buruk. Melayani merupakan sebuah kehormatan karena dengan melayani berarti aku memiliki saudara baru dalam peziarahan hidup ini.

Gaya hidup Yesus yang datang bukan untuk dilayani kita temukan dalam pelbagai macam bentuk penampilan dan kegiatan Yesus bersama para muridNya. Gaya hidup melayani ini rupanya telah lebih dahulu diperjuangkan dan diyakini Yesus sendiri sehingga gaya hidup Yesus ini memberi arah baru kepada para murid untuk melakukan hal yang sama. Tindakan melayani yang dilakukan oleh Yesus ini membawa penyembuhan yang dapat dirasakan oleh banyak orang karena melayani memberi penghiburan. Melayani berarti juga meringankan beban hidup yang menghimpit banyak orang. Beranikah aku mewartakan gaya hidup Yesus dalam peziarahan hidup ini? (RD. Kurniadi)