Artikel

30-Nov-2014

Fr. Nanang

Broadcast Message dari Allah

Untuk menyebarkan informasi pada saat ini, dituntut efisiensi dan efektivitas. Artinya, sebisa mungkin informasi harus bisa tersebar secara cepat dan masif/banyak. Salah satunya yang terkenal adalah program broadcast message dari salah satu layanan komunikasi ternama. Pesan, info, atau pemberitahuan yang menggunakan layanan broadcast itu biasanya dikirim dalam rangka pemberitahuan tentang suatu informasi yang penting. Sebagai contoh, beberapa hari yang lalu ramai beredar broadcast message tentang operasi zebra yang diadakan pihak kepolisian. Isinya ada yang hanya memberitahu perihal operasi lalu lintas itu saja tapi tak sedikit pula yang menambahi tentang kewaspadaan jikalau hendak bepergian.

Sadar atau tidak sadar, pemberitahuan tentang suatu informasi selalu melewati proses mendengarkan dan selanjutnya adalah tahap menanggapi. Proses menanggapi itu pun ada berbagai macam. Ada yang menerima, ada yang menolak, dan ada pula yang tanggapannya biasa-biasa saja. Orang yang menerima informasi biasanya mengalami suatu tahap dimana ia akan mencerna info atau kabar tersebut dan melakukan sesuatu untuk bisa mengolah info tersebut lebih jauh. Sedangkan reaksi orang yang menolak suatu informasi biasanya dia mengalami ketidakpercayaan dan enggan mengolah informasi itu jauh lebih dalam. Sedangkan kategori orang ketiga yang tanggapannya biasa saja itu jauh lebih “mengerikan” sebenarnya sebab orang yang demikian bisa jadi adalah orang yang apatis. Keapatisan seseorang bisa mengarah pada kekerdilan hati dan pikiran sehingga dengan begitu mengerdilkan pula arti dan makna hidupnya sebagai manusia yang utuh.

Para pembaca yang budiman, saat ini tak sedikit ada orang yang merasa kurang dalam hidupnya jika dalam waktu sehari saja tak melihat alat komunikasinya; menunggu pesan atau info entah dari siapa saja, entah yang sifatnya broadcast  atau pribadi. Namun yang menjadi pertanyaan adalah apakah kita akan segelisah itu tatkala kita merasa jauh dan tak pernah berkomunikasi dengan Allah? Padahal, jika kita mau cermat, Injil pada hari ini adalah sebuah pesan atau info juga dari Allah yang bisa bersifat broadcast atau pribadi jika kita mau memaknainya. Sebuah pesan berjaga-jaga bukanlah sebuah pesan kosong yang tak bermakna; yang setiap tahunnya dibacakan begitu saja. Bagaimana pun juga, pesan berjaga-jaga juga seharusnya mengundang reaksi sebagai tanggapan dalam diri dan hidup kita.

Berkaca dari isi broadcast message yang beberapa hari lalu ramai beredar tentang kewaspadaan akan razia dari pihak kepolisan  maka apakah kita juga akan berwaspada dan berjaga-jaga dalam mengisi rentang waktu peziarahan hidup ini? Apakah kita mau sembari berjaga untuk mengisi kehidupan ini secara kreatif dan positif? Atau apakah kita menolak dan mencibir pesan itu sebagai pesan rutin tiap tahun yang memang harus dibacakan? Atau apakah kita termasuk dalam golongan orang yang datar-datar saja; yang akan berkata, ”ada syukur, nggak ada ya sudah. Gitu aja kok repot”?

Jawabannya ada pada hati anda sekalian. Selamat berjaga-jaga dan berwaspada menanti datangnya Yang Empunya hidup!! (Fr. Nanang)