Artikel

30-Nov-2014

Taru-Rosa

Family Life Skills dan Pengaruh Gadget dalam Rumah Tangga

foto

Sabtu, 22 November 2014 yang lalu bertempat di aula Paroki Santo Thomas, hadir sekitar 120 umat Katolik dalam acara Seminar tentang Kecakapan Gaya Hidup (Life skill) dalam Kehidupan Rumah Tangga. Wajah-wajah baru keluarga muda terlihat cukup banyak pada hari itu. Mereka berasal dari 6 Paroki Dekanat Utara yaitu Paroki St. Paulus, St. Herkulanus, St. Markus, St. Matheus, St. Matias dan tentunya dari St. Thomas. Yang menarik, peserta juga ada yang berasal dari Paroki Cicurug, Paroki Kota Wisata, dan lain-lain. Acara dibuka oleh RD. Andreas Bramantyo selaku Romo Deken Dekenat Utara Keuskupan Bogor. Acara seminar dikomandani oleh RD. Alfonsus Sutarno, Ketua Komisi Keluarga Keuskupan Bogor yang berlaku sebagai moderator.

Pembicara pertama dalam seminar ini adalah Dra. A. Ratih Andjayani Ibrahim, MM. Pada awal paparannya Mbak Ratih, demikian biasa dipanggil, memberikan tantangan kepada peserta “Siapa yang ingin punya anak, menikah, punya cucu?” Ia lalu memberikan ilustrasi betapa indah penciptaan manusia dari janin-bayi-anak-tumbuh sebagai pria dan wanita-jatuh cinta-lalu masuk ke dunia rumah tangga. Dari sisi psikologi, kelahiran seorang anak harus direncanakan dan tidak boleh disebutkan bahwa seorang anak lahir karena ayah ibunya “kebobolan”. Pada fokus pembicaraan tentang life skills dikemukakan contoh-contoh permasalahan yang sering dihadapi keluarga pada umumnya terkait dengan relasi suami–istri yang bisa terjadi seperti cinta yang memudar, cinta yang tidak bersambung, kehidupan seks yang tidak membahagiakan, keuangan, masalah anak. Berikutnya  adalah soal relasi orang tua-anak seperti soal belum siap mempunyai anak, tidak mengenal anaknya, punya harapan yang tidak realistis terhadap anak. Kata kunci dari beliau adalah “be joy parenting”, maksudnya adalah agar para orang tua menjadi orang tua yang berbahagia. Hal itu telah dicontohkan oleh Keluaga Kudus Nazareth. Selain itu, beliau menambahkan agar jangan malu meminta bantuan kepada pihak ketiga yang ahli (konselor), seandainya ada masalah yang tidak bisa dipecahkan oleh kedua orang tua.

Selanjutnya pada sesi II dihadirkan pembicara yang juga sudah tidak asing lagi yaitu Prof. Dr. Richardus Eko Indrajit, seorang pakar informasi dan teknologi yang masih muda namun penuh dengan segudang prestasi dan pengalaman di dunia pendidikan, perusahaan maupun  pemerintahan. Mas Eko, demikian biasa dipanggil, membahas topik Pengaruh Gadget dalam Kehidupan Keluarga menyatakan bahwa dewasa ini gadget terutama handphone sudah bukan teknologi lagi karena seolah-olah sudah menjadi bagian dari tangan kanan hampir setiap orang. Saat ini sering dijumpai situasi antara orang tua dan anak tidak “nyambung”, anak-anak saat ini lebih dekat dengan gadget bahkan aktif mengakses internet untuk berbagai macam kebutuhannya. Beliau menambahkan bahwa internet ibarat pedang bermata dua, keberadaannya dibutuhkan  namun di sisi lain juga dikhawatirkankan dampak negatifnya. Selain itu perlu dilakukan pula pendampingan dengan mengadakan share relationship dengan anak. Termasuk di dalamnya adalah sex education yang sebaiknya diberikan sedini mungkin. Mas Eko menegaskan hal ini dalam kaitannya dengan pemakaian gadget karena tidak ada yang peduli kepada anak-anak kita, kecuali orang tuanya sendiri.

Untuk menambah keakraban dan sebagai bentuk dukungan dari pihak sponsor, dibagikan beberapa doorprize kepada para peserta. Semoga di lain waktu seminar semacam ini bisa diadakan lagi dengan topik yang lebih seru dan aktual. Seminar ini pun diakhiri dengan makan siang bersama. (Taru-Rosa)