Artikel

14-Dec-2014

Fr. Nanang

Kita Hanyalah Alat dan Sarana-Nya

Ketika saya menulis renungan ini, suara adzan dari masjid di belakang gereja tengah berkumandang. Pikiran saya pun langsung tertuju pada lonceng gereja yang biasanya diletakkan tinggi-tinggi meski di paroki kita ini tidak ada. Sejurus saya menangkap bahwa baik pengeras suara maupun lonceng itu digunakan sebagai sarana agar orang-orang yang mendengarnya datang berkumpul untuk bertemu dan mendengarkan “suara Sang Khalik” di tempat ibadahnya masing-masing itu.

Para pembaca yang budiman, bacaan-bacaan pada hari Minggu Adven yang ketiga ini menghadirkan tiga sosok besar dalam ranah Kristianisme yakni Yesaya, Paulus, dan Yohanes Pembaptis. Ketiganya dipanggil, dipilih, dan dipakai oleh Allah sebagai sarana; alat untuk memberitakan kabar kepada orang-orang pada zamannya tentang kabar kebaikan. Yesaya sebagai nabi besar bangsa Israel dengan lantangnya berbicara tentang pemenuhan janji Allah di saat orang-orang Israel kecewa dengan kenyataan hidup yang sulit. Sedangkan Paulus pada kesempatan kali ini hadir menasehati orang-orang di Tesalonika agar dengan setia mencari kehendak Allah dalam hidup. Meski pada kenyataannya kita bingung untuk mengenali kehendak Allah tapi Paulus memberi jawaban agar mereka membuka diri pada tuntunan Roh Kudus dan tidak memadamkan gerak Roh itu tapi justru menguji segala sesuatu berdasarkan semangat Roh. Sedangkan Yohanes Pembaptis dengan suara lantang, berani namun penuh rendah hati memperkenalkan kehadiran Yesus Sang Mesias yang akan datang membawa keselamatan. Pribadi Yohanes yang tahu diri itu menginspirasi bahwa dia hanyalah alat yang dipakai Tuhan agar dunia mengetahui dan mengenal Sang Juruselamat.

Yang menarik bagi saya adalah bahwa ada kesamaan antara ketiga pribadi yang dihadirkan ini yakni mereka paham dan sadar betul posisi dirinya masing-masing yakni hanya sebagai alat; sarana; medium; atau saluran untuk menghadirkan Yang Ilahi. Kesadaran macam itu berarti menegasi atau mengecilkan egoisitas diri kita yang terkadang terjebak dalam bahaya dosa cinta diri, haus popularitas; atau hanya sekadar agar 

orang lain tahu apa yang telah saya lakukan untuk orang lain. Kesadaran atau pemahaman diri yang demikian adalah sebuah ikhtiar meneladan apa yang telah dicontohkan Kristus sendiri lewat kedatanganNya ke dunia ini yang sedang kita nantikan ini. Senada dengan itu, ketika kita menganggap bahwa kita hanyalah alat yang dipakai Tuhan untuk melakukan karya-karyaNya berarti kita telah menjadi saluran berkat Allah bagi sesama. Kita telah menjadi lonceng dan pengeras suara Allah yang mengundang orang banyak mengalami kehadiran Yang Ilahi melalui kehadiran kita.

Pertanyaannya, adalah apakah kita telah menghadirkan diri sebagai orang yang menghadirkan kegembiraan di keluarga, sekolah, atau kantor kita? Apakah ketika orang lain melihat atau bersama diriku, mereka mengalami semangat yang positif? Apakah dengan melihat atau bersama diriku orang lain merasa bahwa hatinya tenteram? Jika ya, bersyukurlah pertahankanlah, dan tingkatkanlah apa yang telah anda bangun itu. Jika belum, bertobatlah sebab Kerajaan Surga sudah dekat... (Fr. Nanang)