Artikel

21-Dec-2014

Fr. Nanang

Yang Sederhana itu Rumit

Simplicity is the ultimate sophisticated”. Begitulah kata orang bijak yang berarti bahwa kesederhanaan adalah kerumitan yang tertinggi. Artinya, dalam hal yang sederhana atau mungkin bahkan dalam hal yang remeh-temeh kadangkala (jika kita jujur dan teliti) tersimpan suatu hal yang penting dan bahkan mungkin berharga.

Para pembaca yang budiman, hari Minggu ini masa Adven telah mencapai penghujungnya. Masa penantian telah menjadi masa yang memberikan harapan yang penuh makna karena kegembiraan akan datangnya Sang Penyelamat hampir tiba. Menariknya, kesederhanaan seakan menjadi nada dasar bagi seluruh bacaan pada hari ini. Kesederhanaan atau ketidak-berartian manusia sebagai mahluk ciptaan menjadi corak yang sangat kentara mewarnai bacaan-bacaan hari ini. Pada bacaan pertama ditunjukkan bagaimana Tuhan justru membuat Daud menjadi orang besar dalam sejarah keselamatan ketimbang bagaimana ia hendak membuat rumah bagi Allah (tabut perjanjian). Sedangkan pada bacaan kedua, rasul Paulus mengajak kita mensyukuri dan mengagumi karya Allah yang telah terjadi dan mengalami kepenuhan dalam diri Yesus Kristus. Dan pada bacaan Injil, begitu jelas disajikan kepada kita sosok Maria yang hanyalah seorang perempuan kampung dari Nazareth dipilih Allah menjadi pembawa atau pengantara keselamatan sesungguhnya ke dunia.

Sadar atau tidak sadar, kerap kali kita mengasosiasikan atau mengidentikkan suatu karya atau peristiwa yang besar dengan suatu cara yang hebat dan fenomenal pula. Tak jarang, hal itu dibawa pada ranah religiusitas sehingga sering kali orang begitu tergiur dan terpikat dengan cerita-cerita fantastis tentang suatu peristiwa atau pengalaman rohani. Bahwa ada suatu pengalaman rohani yang (mungkin) sungguh fantastis, fenomenal, atau luar biasa itu tidak salah namun Gereja kita memiliki otoritasnya sehingga tidak sembarangan melihat fenomena tersebut sebagai sebuah peristiwa iman yang harus diimani oleh seluruh umat. Atau, pada ekstrem yang lain orang kerap kali merasa senang dan bangga bisa mengalami suatu peristiwa atau pewahyuan iman yang (konon) luar biasa. Realitanya, hal itu memang sungguh ada dan pernah terjadi.

Ketiga sosok besar ini yakni Daud, Paulus, dan Maria kiranya dapat menjadi inspirasi segar bagi pengalaman iman kita. Ketiganya yang hadir dalam bacaan-bacaan pada minggu keempat adven ini menunjukkan bahwa karya keselamatan Allah dalam hidup kita sudah terjadi jauh lebih dulu sebelum kita sempat menyadarinya. Lewat kesederhanaan, kesahajaan, ketulusan, dan kerendahan hati karya-karya Allah menunjukkan perannya bagi hidup kita. Begitulah kesederhanaan karya Allah hadir melalui paru-paru yang masih bisa digunakan untuk bernafas, jantung yang berdenyut, mata yang masih bisa melihat seluruh alam ini, ginjal yang aktif menyaring racun, alat pencernaan yang berjalan baik, dan masih banyak yang lainnya.

Terlepas dari itu semua, saya mengajak kita melihat realita hidup ini, entah saat ini kita sedang dirundung susah, sedih, dan kemalangan maupun tengah bergembira dan bersukacita. Saya mengajak kita melihat itu semua sebagai sebuah tindakan dan karya Allah membentuk diri pribadi kita menuju kedewasaan dan kematangan. Percayalah dengan harapan yang aktif bahwa dalam setiap peristiwa hidup kita, tangan Allah sedang merenda suatu karya apik nan cantik. Demikianlah kesederhanaan telah mengantar kita semakin mendekati Sang Penyelamat. Semoga kita semakin siap, teguh, dan mantap menata diri  sehingga Dia yang datang dengan sederhana di palungan itu bergembira menemukan palungan yang cantik-apik namun penuh kesederhanaan, kesahajaan, dan ketulusan dalam hati kita masing-masing.  (Fr. Nanang)