Artikel

22-Feb-2015

RD. Kurniadi

Bertobatlah dan Percaya Pada Injil

Kata “bertobatlah” menjadi kata yang sering didengar tatkala kita mulai memasuki masa puasa. Kata ini juga muncul dalam perjumpaan dengan orang-orang yang memiliki keinginan untuk memperbaiki diri. Kata ini menjadi “sakti” karena menjadi kata tidak cukup dikatakan saja tetapi harus dilakoni dalam kehidupan.

Awal Mula
Bertobat adalah kata yang mengawali manusia jika ingin melakukan sebuah pembaharuan diri. Banyak orang yang mencoba merumuskan pertobatan bagi dirinya sendiri namun terasa hambar dalam pelaksanaannya. Rasa hambar dalam pelaksanaan ini bisa terjadi manakala manusia masih berjibaku dalam satu persoalan kemana  atau dari mana semangat hidup baru ini akan dimulai. Persoalan untuk memulai sebuah pertobatan menjadi persoalan yang mendasar bagi perjalanan manusia karena manusia berhadapan dengan situasi lingkungan yang telah membuatnya aman dan nyaman. Persoalan nyaman dan aman akhirnya membawa manusia pada semangat hidup yang lembek.

Pertobatan tidak hanya ditampakkan pada perubahan kata atau perubahan penampilan. Pertobatan justru nampak nyata dalam semangat hidup yang lahir dari keinginan terdalam. Semangat inilah yang memampuan manusia untuk meninggalkan rasa aman dan nyaman menuju tempat yang penuh dengan konflik batin antara lain dipandang negatif oleh teman dekat. Persoalan dipandang negatif oleh teman dekat melemahkan semangat pembaharuan yang akan dan telah dimulai oleh manusia.

Percaya pada Injil
Pertobatan dalam diri manusia selalu memberi inspirasi baru kepada orang lain untuk melakukan hal yang sama. Dalam hal ini kita belajar dari Guru spiritual kita. Guru spiritual kita sering kali melihat satu gerak pembaharuan diri dalam setiap pribadi manusia yang ingin keluar dari berbagai macam ikatan yang membelenggunya. Gerak ini rupanya tidak hanya berhenti pada niat saya saja tetapi juga harus diaktualisasikan dalam tindakan. Kisah Zakheus si pemunggut cukai menampilkan gerak pembaharuan dirinya yang lahir dari sebuah keinginan untuk mengalami perjumpa dengan Yesus.

Dalam bacaan Injil kali ini kita juga berjumpa dengan Yesus yang pergi ke padang gurun di temani oleh binatang buas dan malaikat. Padang gurun menjadi tempat pergulatan manusia karena padang gurun diyakini sebagai tempat untuk menyucikan diri; menemukan visi hidup yang diikuti dengan membangun mentalitas yang tahan banting. Dikatakan demikian karena padang gurun tempat orang mengalami aneka macam gesekan kepentingan antara kehormatan duniawi maupun pengalaman dekat dengan Allah. Sang Guru spiritual rupanya memiliki cara yang khas untuk menyapa manusia yaitu apa yang dialami oleh manusia di dunia ini tak kalah heroiknya bila dibandingkan dengan pengalaman Yesus di padang gurun untuk menemukan kehendak Allah dalam diri manusia. Pertobatan hendaknya dilandaskan pada gerak batin untuk keluar dari zona aman menuju zona yang penuh dengan konflik agar di zona yang penuh dengan konflik manusia mampu bertahan melintasi padang gurun. Padang gurun sering kali menjadi arena bagi iblis untuk membuat manusia berjuang dan berjumpa dengan kasih Allah. (RD. Kurniadi).