Artikel

15-Feb-2015

Fr. Nanang

Penyalur atau Penghalang??

Hidup manusia tidak selamanya berjalan lancar, lepas dari persoalan, kesuksesan dan keberuntungan, namun juga dibayangi oleh riak-riak bahkan badai yang bisa meluluhlantakan impian, menghancurkan  pengharapan, mematahkan semangat dan melunturkan komitmen. Dalam situasi demikian, banyak orang berpikir bahwa Tuhan tidak peduli. Anggapan bahwa Tuhan tidak peduli membawa konsekuensi kekecewaan dan goyahnya iman serta akhirnya bisa saja meninggalkan Tuhan.

Hari ini kita mendengar kisah seorang kusta yang memohon kesembuhan dari Yesus. Oleh karena belas kasihan, maka hati Yesus tergerak untuk mentahirkan orang kusta itu untuk menjadi sehat kembali. Hal ini dilakukan Yesus karena pada zaman itu para imamlah yang memiliki kuasa secara sosio-kultural untuk menyatakan orang yang kusta sembuh dan boleh mempersembahkan kurban di Bait Allah. Singkatnya, fenomena sosial zaman itu bisa membawa pengaruh pada relasi seseorang pada Allah terganggu. Orang yang terbuang secara sosial tak layak untuk mempersembahkan diri dan doanya di hadapan Allah.

Beberapa waktu lalu Paus Fransiskus berkata dalam akun Twitter-nya bahwa memiliki iman itu tidak lantas berarti tidak memiliki kesulitan-kesulitan hidup tapi memiliki kekuatan untuk menghadapinya, mengetahui bahwa kita tidaklah sendirian. Usaha yang dilakukan oleh orang kusta tersebut menampilkan iman yang gigih dalam mengharapkan suatu penghiburan. Meski begitu, jauh lebih penting jika kita memahami arti penting seperti apa yang dikatakan oleh Paus Fransiskus di atas. Iman pertama-tama bukan untuk mengetahui atau bahkan menyetir kehendak Allah tapi memahami dan maksud serta kehendak rencana Allah dalam hidup kita seraya memohon dan selalu mengharapkan kekuatan dari-Nya.

Sikap yang ditunjukkan oleh Yesus ini membawa kita pada suatu renungan apakah diri kita sungguh mampu membawa orang-orang yang sedang kesulitan itu mengalami dan merasakan belas kasih sehingga kita menjadi saluran berkat dan rahmat Allah. Atau malah mungkin kita menjadi batu sandungan bagi orang lain untuk merasakan kasih Allah? Selamat merenung...

(Fr. Nanang)