Artikel

08-Feb-2015

RD. Y. Joned S.

KESEIMBANGAN DALAM PERUTUSAN

Ketika Yesus mengajar, menggunakan mukjizat bukan sebagai propaganda atau menonjolkan diri-Nya. Mukjizat itu merupakan tanda kuasa Allah sedang bekerja dalam diri Al Masih. Dengan melakukan Mukjizat, Yesus berharap agar kita lebih hidup beriman dan hidup berbahagia! Tetapi, setiap orang melihat Dia hanya sebatas Pembuat mukjizat, yang menyembuhkan orang sakit. Maka Yesus sering menarik diri, dan pergi ke tempat sunyi untuk berdoa! Hal ini juga bukan berarti Yesus mau melarikan diri dari perutusan-Nya, melainkan Yesus mau menyadarkan kita, agar kita dapat menemukan nilai rohani di balik tindakan Yesus itu. Lalu Yesus kembali kepada umat, agar mereka memahami penyakit apa yang mau disembuhkan-Nya! Dalam Injil, Yesus berkata: “Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberita-kan Injil, karena untuk itu Aku telah datang” (Mrk 1:38).

Kita bisa menarik satu pelajaran melalui Injil minggu ini (Mrk 1:29-39). Ketika para murid-Nya melapor kepada Yesus, bahwa banyak orang minta disembuhkan dari penyakitnya. Tetapi Yesus malah “menghindar”, dan mengajak para murid pergi ke tempat lain, agar disana Yesus juga dapat mewartakan Injil. Melalui sikap itu, Yesus menghendaki adanya keseimbangan antara pewartaan Injil dan karya pelayanan.

Betapa pentingnya mewartakan Injil! Kita saksikan bagaimana Paulus, dengan tegas berkata: “Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil” (1 Kor 9:16). Lewat pernyataan ini kita tahu, bahwa pewartaan Injil itu merupakan tugas yang harus dilakukannya. Tugas itu tak pernah dilalaikannya. Kata Paulus: Celakalah aku, jika aku tidak memberikan Injil!

Begitu besar semangat Paulus dalam mewartakan Injil. Dia berkata: “Pewartaan itu merupakan tugas dan anugerah, bukan berdasarkan prakarsanya!” Agar tugas pewartaannya berhasil, Paulus memakai taktik: dia mau menjadi segala sesuatu untuk semua orang. Sekalipun dia kuat, dia mau menjadi lemah, agar dapat menyelamatkan mereka yang lemah; walau dia itu orang bebas, dia mau menjadi hamba bagi sesama! “Sesuatu itu aku lakukan karena Injil, supaya aku mendapat bagian dalamnya” (1Kor 9: 23). Teladan Paulus kiranya bisa menjadi motivasi bagi kita untuk mengambil bagian tugas pewartaan Injil. Tugas pewartaan ini menuntut kesediaan, sikap kreatif dan inovatif dari kita. Kita diminta untuk menyesuaikan diri dengan situasi dan keadaan para pendengar, agar kita dapat merebut hati dan simpatinya. Kita harus masuk “melalui pintu hati mereka” untuk menarik hati mereka…

KITA DIUTUS MENJADI PEWARTA KABAR BAIK, DAN AKHIRNYA KITA MESTI MENJADI KABAR BAIK ITU SENDIRI BAGI SESAMA!” (RD. Yustinus Joned Saputra).