Artikel

25-Jan-2015

Fr. Nanang

Penjala = Motivator

Suatu ketika saya iseng mengetik kata "motivator" pada search engine. Pada laman pertama yang paling banyak muncul adalah tentang profesi-profesi seperti bidan, guru, kepala sekolah, dan pemimpin perusahaan. Sekilas kita bisa berpendapat bahwa tentu saja orang-orang seperti itu ada hubungannya dengan motivasi karena mereka memiliki tugas, tanggung jawab, dan peran untuk mendorong orang-orang yang dipercayakan padanya mencapai apa yang diinginkannya. Tapi apakah profesi-profesi yang lain tidak bisa mengantarkan orang menuju kesuksesan atau kebahagian?

Para pembaca yang budiman, pada hari Minggu ini kepada kita disajikan tiga bacaan yang menghadirkan Yunus, Paulus, dan Yesus. Ketiga tokoh ini dikisahkan memiliki tugas untuk memberitakan  kabar pertobatan. Pada bacaan pertama, Yunus dipercaya Allah untuk membawa penduduk Niniwe menyatakan pertobatannya sebab jika tidak bertobat maka Niniwe akan ditunggangbalikkan. Pada bacaan kedua, ditampilkan Paulus yang dengan penuh semangat menyatakan agar jemaat di Korintus tidak tenggelam dan asyik dengan dunianya sendiri. Mereka mesti sadar bahwa apa yang ada pada mereka tidaklah kekal. Maka, ia pun mendorong adanya pertobatan di sana. Sedangkan pada bacaan Injil, Yesus juga berbicara tentang kedatangan Kerajaan Allah yang sudah dekat. Oleh karena waktunya telah tiba, Yesus pun mendorong agar orang-orang bertobat. Dan setelahnya, Ia pun memilih dan mengajak orang-orang yang dijumpaiNya untuk menjadi murid-muridNya dengan tugas menjala manusia.

Lantas, inspirasi apa yang bisa digali tentang pertobatan kali ini? Mari kita lihat ketiga tokoh di atas dan juga kisah tentang orang-orang yang dipilih Yesus menjadi murid-muridNya dengan tugas menjala manusia. Ketiga tokoh tersebut jelas menginginkan agar orang banyak kembali ke pangkuan Allah dan tidak melakukan dosa lagi. Tentu saja itu adalah pesan dasar tentang pertobatan. Tapi yang menarik adalah bahwa Yesus memilih orang-orang biasa, yakni Simon Petrus, Andreas, Yakobus, dan Yohanes, yang notabene mereka adalah nelayan dan bukan orang terpelajar sebagai murid-murid Yesus. Ketika mereka mengatakan "YA" pada ajakan Yesus maka sesungguhnya itu adalah pertobatan karena mereka meninggalkan apa yang menjadi "jalan" yang dulu dan memilih jalan baru yang disediakan Yesus. Mengikuti Yesus menjadi semacam kelahiran baru bagi kehidupan lama yang mungkin penuh dengan segala hiruk-pikuk yang menyesakkan. Dan itu pun juga bisa dimaknai sebagai sebuah pertobatan.

Di lain pihak, menjadi penjala manusia sering diasosiasikan sebagai sebuah tugas untuk membawa orang masuk menjadi anggota Gereja. Atau sering pula diasosiasikan sebagai sebuah usaha untuk membawa mereka yang dianggap tersesat untuk mengikuti apa yang kita jalani. Namun rupanya apa yang lumrah dipahami itu tidaklah tepat sekali, bahkan cenderung negatif. Alangkah jauh lebih indah jika tugas atau perintah Yesus sebagai penjala manusia yang diberikan kepada kita sebagai murid dilihat sebagai sebuah tugas, undangan dan sekaligus panggilan sebagai motivator. Mengapa? Karena dengan menjala manusia, kita juga berusaha mendorong, mendukung, menuntun, memelihara, dan menguatkan sesama pada arah yang lebih baik. Tugas menjala pertama-tama tidak dilihat sebagai tugas untuk "menangkapi" orang lain tetapi memberikan dorongan semangat, motivasi juga inspirasi bagi mereka yang membutuhkan tuntunan sehingga mereka menemukan jalan kehidupannya sendiri.

Ingat, bahwa para murid yang dipilih Yesus di atas bukanlah orang-orang terpelajar dan dari kalangan terpandang melainkan orang-orang biasa yang diundang untuk menjadi motivator (baca: penjala) dan mengatakan "YA" untuk mengajak serta mendorong orang lain menemukan kelahiran baru bersama dan dalam Yesus. Bagaimana dengan kita??? (Fr. Nanang)