Artikel

18-Jan-2015

Sandra

Berdamai Dengan Diri Sendiri

-sebuah catatan kecil kaum muda tentang doa-

Sebagai umat Katolik kita patut bersyukur memiliki berbagai doa yang dapat diwujudkan kepada Allah Bapa. Apabila dicermati dari awal kita membuka mata hingga kembali menutup mata setiap harinya lebih dari 1 doa semestinya dapat kita panjatkan. Entah sebagai ungkapan permintaan atau ucapan syukur. Tapi apakah kita sadar dengan kegiatan tersebut setiap harinya? Sudah sejauh manakah kita mau berdoa sebagai cara untuk dekat dengan Bapa? Mari kita masing-masing merefleksikan sejenak kualitas kedekatan kita dengan Tuhan.

Doa adalah dasar dari suatu bangunan rohani. Kekuatan doa selalu mahakuasa. Pada saat berdoa, jangan lupa untuk memperhatikan apa yang sedang kita katakan, dan kepada siapa kita memohon sehingga kita tidak seperti sedang “menyetir” kehendak Tuhan. Doa yang hanya diucapkan tanpa dimaknai kata-katanya hanya akan sama seperti bunyi tong kosong.

Melalui doa kita pun juga dapat meningkatkan rasa persahabatan kita dengan Yesus Kristus. Tentu, setiap harinya kita bersosialiasi dan mencari persahabatan dengan teman-teman untuk sekadar meringankan beban penderitaan di dunia ini melalui percakapan, kasih sayang serta perhatian meskipun kadang mereka dapat mengecewakan kita. Tetapi melalui doa, menurut Padre Pio, kita bisa mencari persekutuan dan percakapan dengan Sang Sahabat istimewa yang tidak akan mengecewakan kita yaitu Yesus Kristus.  

Ketika kita merasa senang atau gembira dalam hidup setelah berdoa, apakah selama sukacita tersebut kita juga ingat untuk terus berdoa? Terkadang kita hanya meminta apa yang menjadi keinginan kita saja tanpa mengetahui bahwa kenyataan yang kita hadapi adalah kebutuhan dan jawaban dari segala doa-doa kita. Sehingga terkadang kita mungkin akan berpikir dan sedikit menyangkal hal yang terjadi terutama bila tidak sesuai dengan harapan kita. Kekecewaan merupakan hal yang manusiawi terjadi. Tetapi sejauh mana kita menyadari hal tersebut sebenarnya merupakan cara Tuhan untuk sedikit ‘menyentil’ dan memaknai bahwa hal yang sedang dialami merupakan jalan menuju kebahagiaan yang lebih sejati.

Lalu apa hubungannya dengan topik “Berdamai dengan Diri Sendiri?” Segala kelemahan dan penyangkalan yang sudah terjadi atau bahkan sedang dialami menuntut kita untuk lebih memahami diri sendiri. Terkadang begitu banyak hal yang seakan menjadi terlupa atau tidak disadari membentuk diri kita. Ada beberapa hal yang telah mengubah pola pikir kita dari doa-doa kita. Dengan semakin merefleksikan kehidupan rohani melalui doa, kita dapat lebih merasa damai atau kententraman di dalam hati sehingga tidak ada hal yang dicemaskan ketika doa-doa kita belum terjawab. Lagipula, Dia selalu mendengarkanmu, “quoniam bonus, quoniam in saeculum misericordia eius”-“ sebab Dia baik, dan kasih setia-Nya adalah untuk selama-lamanya.” (Sandra)