Artikel

11-Jan-2015

Fr. Nanang

Memaknai Kembali Pembaptisan

Suatu ketika dalam sebuah perjalanan, seorang rekan ngedumel soal perilaku pengendara kendaraan bermotor yang kerap berlaku seenaknya dan semaunya sendiri. Rekan saya ini merasa kesal lantaran ia sering dibuat kaget oleh pengendara lainnya yang jika hendak melintas atau berbelok tidak memberi tanda atau aba-aba. Dengan kesal ia berujar, "Orang-orang ini pada nggak ngerti naik motor yang bener kali ya!! Punya SIM-nya nembak semua sih!!" Secara refleks, saya mengasosiasikan bahwa orang-orang yang punya SIM tapi dengan prosedur yang benar akan memiliki tabiat dan perilaku berkendara yang baik dan benar pula. Namun, benarkah itu?

Para pembaca yang budiman, pada hari Minggu ini kita merayakan Pesta Pembaptisan Tuhan. Secara liturgi, Pesta Pembaptisan Tuhan  ini menjadi penutup rangkaian masa Natal dan dilanjutkan dengan masa biasa. Namun, ketika anda membaca tulisan ini, apakah anda pernah tahu apakah arti dan makna baptis(an)? Baptis berasal dari kata baptizein (bhs. Yunani) yang artinya mencelupkan/menenggelamkan. Maka praktik baptisan pada zaman Yesus adalah menenggelamkan seseorang pada suatu kolam/sungai dengan maksud ketika ditenggelamkan maka orang tersebut meninggalkan kemanusiaannya yang lama dengan segala dosanya dan bangkit menjadi manusia yang baru dalam Kristus. Oleh karenanya, ketika baptisan kita dibebaskan dari dosa asal, dilahirkan kembali sebagai anak Allah, dan diterima dalam komunitas umat beriman/Gereja (KHK. 849).

Jika kita mau, sebenarnya momen pesta Pembaptisan Tuhan ini dapat dijadikan sebagai momen untuk merenungkan kembali apakah makna terdalam pembaptisan yang telah kita terima dan hubungannya bagi kehidupan sehari-hari. Senada dengan kisah yang saya ceritakan di atas, bahwa pembaptisan seharusnya menjadi  sebuah paradigma; sebuah mindset bagi cara kita merasa, berbicara, berpikir, bertutur, dan bersikap. Singkatnya, seharusnya baptis menjadi sebuah cara kita berada bagi diri sendiri dan bersama orang lain. Bahwa sesungguhnya ketika dibaptis artinya kita menerima Kristus; Kristus diinjeksikan-ditransfusikan dan hidup di dalam diri kita. Kita yang telah dibaptis berarti menjadi manusia Kristus; Kristus tinggal dan hidup bersama kita. Kita menjadi kristus-kristus yang lain (alter christi). Oleh karena itu, seharusnya seluruh keberadaan dan hidup kita juga mencerminkan perilaku Kristus.

Menjadi Kristiani mensyaratkan pembaptisan. Tapi lebih jauh dari itu, pembaptisan bukan hanya sekadar memiliki nama baptis yang keren atau soal memakai atribut-atribut Kristiani lainya. Pembaptisan yang diterima menuntut suatu konsekuensi sebagai anak-anak Allah yang diselamatkan kelak sebab kita telah diserupakan dengan Kristus, PuteraNya sendiri. Maka, apakah kita yang telah menerima Kristus dalam hidup ini telah sungguh-sungguh berupaya menghadirkan Kristus dalam setiap langkah-laku dan gerak hidup kita? Apakah ketika kita bersama dengan orang lain, entah siapapun itu, mereka bisa mengalami kebahagiaan dan ketenteraman?

Semoga momen ini dapat kita jadikan sebagai sebuah titik awal untuk memulai kembali usaha menghadirkan diri sebagai kristus yang lain dan memaknai ulang serta menghayati pembaptisan yang telah diterima. (Fr. Nanang).