Artikel

04-Jan-2015

RD. Kurniadi

Bintang Sang Bapak-Sang Ibu

Minggu yang lalu Gereja merayakan pesta Keluarga Kudus; Santo Yusuf, Bunda Maria, dan Tuhan Yesus. Dalam perayaan pesta Keluarga Kudus kita semua memperingati bagaimana Keluarga Kudus ini menghidupi sabda Allah dalam segala kesulitan dan keberuntungannya. Sikap utama yang nampak dalam Keluarga Kudus ini adalah diam dan menyimpan apa yang didengarnya dalam hatinya. Sikap diam ini memberi arti baru dalam kehidupan manusia modern yakni tidak reaktif terhadap apa yang dialami melainkan berusaha untuk berpikir dalam suasana jernih dan kedalaman budi. Inilah bintang yang cermerlang yang menerangi Keluarga Kudus yang dirayakan minggu yang lalu.

Bintang Sang Bapak-Sang Ibu
Bintang selalu memberi terang. Terang bintang sangat berguna menerangi; menuntun  dengan kelembutannya di tengah malam yang gelap. Sinar bintang kecil meski tak terasa tetapi memberi arti bagi banyak orang. Terang bintang ini tidak bisa dinikmati di tengah metropolitan tempat tinggal kita saat ini. Terang bintang bersinar dalam diri tokoh-tokoh dunia yang melakukan tindakan kemanusiaan yang mengangkat harkat dan martabat manusia. Bunda Teresa dari Kalkuta dan Paus Yohanes Paulus II misalnya; menjadi bintang dalam sebuah tindakan kemanusiaan yang dilakukannya sepanjang hidupnya.

Rupanya tindakan sederhana dapat mengangkat harkat dan martabat manusia hingga membawa arti bagi hidup itu sendiri. Bagi kita, bintang yang bersinar dalam kehidupan keluarga bisa dikerjakan dalam suatu tindakan sederhana. Tindakan sederhana bisa dilaksanakan dengan sepenuh hati serta didorong oleh semangat pengorbanan pada hidup yang lebih berkualitas. Tindakan itu dapat dilaksanakan dengan semangat mendisiplinkan dan kasih yang lemah lembut. Kedisiplinan dapat ditempuh dengan pengorbanan yang nampak dalam pengendalian diri dan manajemen hati serta pikiran yang tepat. Dalam kedisiplinan yang disertai dengan tindakan di atas manusia saling mempengaruhi dalam semangat saling mendengarkan serta saling memperhatikan sehingga manusia muda mampu berpikir dalam kejernihan pikiran dan budi. Kedisiplinan dapat ditunjukan dalam diri sang ayah yang mempertunjukkan semangat kedisiplinan dalam kata dan tindakannya. Sikap kedisiplinan ini yang dilandaskan atas pengorbanan menjadi bintang di tengah budaya korup yang meraja lela saat ini.

Bintang kasih kelembutan dapat dilaksanakan oleh sang ibu. Kasih yang lembut didasarkan semangat pengorbanan dan harapan oleh hidup baru. Kasih yang lembut bukan berarti memanjakan melainkan memiliki keberanian untuk membuatnya berkembang dalam kebersamaan dengan banyak orang. Kelembutan kasih ini dinyatakan dalam semangat menempa diri secara tepat dan ditampakan dalam menilai tanda-tanda zaman sehingga manusia mampu menghindar dari tanda zaman yang korup. Dengan demikian, manusia muda yang dibimbing dalam kasih kelembutan ini mampu menempatkan diri secara penuh dan utuh.

Bintang Iman
Keluarga kudus menjadi bintang yang menyinari keluarga-keluarga Kristiani. Begitu juga tindakan disiplin yang dilandasi dengan kelembutan kasih menjadi bintang bagi harkat dan martabat manusia. Itulah bintang iman yang memberi keteduhan; ketenangan di tengah gelapnya malam karena persoalan dunia ataupun kebiasaan manusia yang membawa banyak orang kecewa. Maka bintang iman mesti menjadi kebahagiaan bagi pelaku-pelaku sabda bahagia. (RD. Kurniadi)