Artikel

01-Mar-2015

RD. Y. Joned S.

Melayani dan Menikmati Kebersamaan dengan Tuhan

Kita memasuki Minggu Prapaskah kedua. Saat ini kita diundang untuk mendaki gunung Tuhan, yaitu gunung Tabor bersama Tuhan untuk menanggapi kebahagiaan melalui pengorbanan.

Dalam Bacaan Pertama (Kej 22:1-2.9-13.15-18), kita berjumpa dengan seorang yang mengadakan satu usaha luar biasa, yaitu melaksanakan kehendak   Allah. Dia sedang mempersiapkan diri untuk mengorbankan harta terbesar yang dimilikinya. Pertanyaan bagi kita: Apakah yang kita persiapkan untuk dipersembahkan ke hadirat Tuhan?

Dalam Bacaan Kedua (Rm 8:31-34), Rasul Paulus menegaskan bahwa kita tidak usah kuatir dan cemas. Karena cinta Allah begitu besar kepada kita, maka Bapa menyerahkan Putera-Nya untuk menyelamatkan kita. Allah tidak menyayangkan Putera-Nya yang tunggal, yaitu Kristus untuk mewujudkan karya penyelamatan-Nya itu.

Sedang Injil (Mrk9:2-10) berkisah tentang Allah yang memperkenalkan Putera-Nya, yaitu Yesus kepada para murid. Di Gunung Tuhan itu, para murid-Nya melihat Yesus berubah rupa. Apakah kita pernah merindukan untuk tinggal bersama dengan Allah seperti yang dikehendaki Petrus di atas Gunung Tuhan itu? Marilah kita memeriksa batin kita dan kita persiapkan hati kita, agar layak mengambil bagian dalam karya penyelamatan Tuhan.

Hidup dalam kebersamaan dengan Tuhan tidak boleh menjadi halangan untuk menjalankan tugas, pekerjaan harian, dan pelayanan kita. Hidup kebersamaan dengan Tuhan justru mesti menjadi peneguh untuk melakukan tugas, pekerjaan rutinitas dan karya pelayanan. Kita sebagai umat beriman tidak terbatas pada kebersamaan dengan Tuhan, pada doa, ibadat di sekitar altar, atau saat meditasi, rekoleksi atau retret; tetapi juga pada pelaksanakan tugas, pekerjaan dan tanggung-jawab kita sebagai pribadi yang berkarya.

Dalam injil hari ini kita mendengar bagaimana Tuhan Yesus memanggil 3 murid kepercayaan-Nya (Petrus, Yakobus, Yohanes) untuk naik ke gunung Allah. Di atas gunung, dalam Kitab Suci menjadi simbol Hadirat Allah, Yesus berubah rupa, wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjad iputih bersinar seperti terang. Pada saat itu, dan di Gunung Tuhan itu, Allah memperkenalkan Yesus sebagai Putera-Nya.

Kebersamaan dengan Yesus sebagai Putera Allah, ditambah lagi dengan 2 tokoh besar Perjanjian Lama, Musa dan Elia. Tentulah suasana itu sangat mengesankan dan membahagiakan. Maka tidak usah heran bila Petrus tanpa sadar berseru: “Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia!” (Mrk 9:5). Apakah Tuhan mengabulkan permintaan Petrus? Rupanya tidak! Sesudah mengalami peristi wayang mengesankan itu, Yesus mengajak paramuridNya turun dari gunung, kembali ke dunia nyata dan dunia tugas…..Dunia yang diwarnai kekerasan dan penuh tatangan, yang mesti kita hadapi !!! Dunia yang penuh tindak korupsi dan dunia yang dihiasi dengan ketidak-jujuran…. Kita mesti kembali ke lingkungan dan tempat dimana kita mesti melayani Tuhan Yesus dalam tindakan yang nyata.—RD. Y. Joned Saputra