Artikel

08-Mar-2015

Fr. Nanang

Berpantang-Puasa Hati, Pikiran, dan Mulut

Pada suatu kesempatan, beberapa rekan muda mengungkapkan kebingungannya dalam menjalani pantang dan puasa di masa Prapaskah ini. Dengan ringkas, saya pun  membacakan ketentuan menjalani pantang dan puasa dari selebaran yang biasa dibagikan oleh pihak Keuskupan dengan sedikit penjelasan. Yang kemudian saya tambahkan adalah bahwa apa yang ditentukan itu adalah ketentuan minimal. Artinya, jika di antara mereka ada yang memiliki inisiatif pribadi menambah jumlah dan kualitas berpantang dan puasa dalam kerangka bermatiraga menyambut kebangkitan Tuhan nanti amatlah sangat baik dan dianjurkan. Selain itu, saya pun menandaskan juga agar soal kebiasaan-kebiasaan buruk yang menyangkut soal hati dan pikiran juga mendapat perhatian untuk dibina sebagai sebuah usaha bermatiraga menghilangkan kebiasaan buruk seperti bergosip, fitnah, membicarakan orang lain, bohong, berpikiran negatif dan kotor, curang, dan lain sebagainya.

Dalam bacaan Injil pada hari Minggu Prapaskah III ini, kita disodorkan sebuah kisah dimana Yesus merasa geram dan marah tatkala Bait Allah digunakan sebagai arena perdagangan. Yang membuat geram dan marah adalah adanya ketidakadilan sistem yang dibuat oleh para pengelola Bait Allah dan para pedagang di sana. Para pengelola Bait Allah dan pedagang menetapkan aturan bahwa untuk mempersembahkan kurban bakaran yang bisa diterima adalah hewan-hewan yang berasal dari mereka. Tentu saja disana sudah ada permainan ekonomi yang dibuat sedemikian rupa agar menguntungkan mereka. Dengan kata lain, hewan yang hendak dipersembahkan sebagai kurban oleh orang-orang saat itu seakan tidak memiliki standar yang ditetapkan dan hanya hewan dari kalangan mereka sajalah yang seakan nanti diterima oleh Tuhan Allah.

Di situlah Yesus merasa geram, kesal, dan marah karena dengan begitu ada nilai-nilai keadilan dan kebenaran yang dilanggar. Orang-orang yang hendak memiliki niat tulus membangun relasi dengan Tuhan direcoki oleh kepentingan atau niat usil dan jahat sekelompok orang demi kepentingannya sendiri. Untuk itulah Yesus geram karena orang-orang yang bercokol disitu taat pada aturan lahiriah belaka dan acuh memperhatikan aspek-aspek batiniah yang juga perlu ditata bahkan diperbaiki. Begitulah pula yang ditekankan Yesus dalam hal hendak merobohkan Bait Allah dan membangunnya kembali dalam tiga hari. Yesus mau menandaskan bahwa begitu banyak orang bersibuk-sibuk ria mengurusi tata hukum-aturan yang sifatnya luaran tapi malah tidak memperhatikan apa yang menjadi gerak niat pribadi, apakah itu sungguh tulus dan baik; apakah itu  tidak merugikan dan membuat orang lain sakit hati?

Maka, kisah ini juga seharusnya juga menginspirasi kita pada masa prapaskah ini untuk memperhatikan kecenderungan-kecenderungan yang sifatnya ada di dalam ruang batin kita. Tata aturan dan hukum itu penting tapi juga hendaknya diperhatikan dan diselaraskan  dengan gerak dan disposisi batin kita. Berilah juga porsi dan perhatian untuk berpantang-puasa soal hati, pikiran, dan mulut. Bait Allah yang sejati adalah hati kita masing-masing dimana Allah menunggu untuk disapa, dikunjungi, dan diajak untuk mempengaruhi setiap langkah-laku hidup sehari-hari. (Fr. Nanang)