Artikel

18-Aug-2015

Tatik

Perayaan Ekaristi Peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia

Peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia ke-70 dirayakan oleh umat Paroki St. Thomas melalui Perayaan Ekaristi pukul 08.00 WIB pada tanggal 17 Agustus 2015. Meski Gereja tidak dipenuhi oleh umat, tentu saja karena kebanyakan umat sedang mengikuti upacara bendera, Perayaan Ekaristi dilakukan secara konselebrasi oleh Para Pastor di Gereja St. Thomas, dengan konselebran utama RD Yustinus Joned Saputra.

Dalam pengantarnya, Rm Joned menyatakan, katanya negara kita sudah merdeka. Katanya kita sudah merdeka. Tapi, apakah kita sudah merasa merdeka dalam kehidupan sehari-hari? Apakah secara pribadi kita merasa merdeka dan sudah memerdekakan sesama di sekeliling kita?

Sementara dalam homilinya, Rm Joned mengambil petikan ayat “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib diberikan kepada Kaisar dan kepada Allah yang wajib diberikan kepada Allah.”

Bagi orang Parisi yang bertanya kepada Yesus, sebenarnya mempunyai kepentingan. Karena mereka harus membayar pajak atas tanah yang katanya tanah itu adalah milik Allah. Sementara Yesus juga mengetahui bahwa pemerintah tidak memiliki uang kas.

Di dalam kehidupan sehari-hari, setiap hari kita pergi ke Gereja tentunya setiap hari mengeluarkan uang derma. Belum lagi kalau harus pergi ke kantor tentunya harus memberikan upeti dalam perjalanan yaitu mengeluarkan uang untuk ongkos.

Demikianlah. Di zaman modern, kita memiliki banyak pilihan untuk memberikan kepada siapapun dan memberikan kepada Allah sebagai bentuk persembahan.

Kini, pertanyaannya adalah, apakah pemberian kita itu tulus ikhlas? Lebih baik bila kita memberikan dari kekurangan kita.

Jangan dilihat dari penerimaan kolekte yang kelihatannya banyak setiap Perayaan Ekaristi minggu, lantas kita masih menggerutu karena di lingkungan harus mengeluarkan uang untuk Kartu Partisipasi Umat. Kolekte yang kita kumpulkan tersebut masih harus disetorkan untuk Keuskupan Bogor, untuk Karya Sosial, untuk Rumah Tangga Paroki, dan lain-lain.

Tentunya kita harus berani memberikan apa yang sudah kita terima dari Allah.

Tanpa kehidupan rohani yang kuat kita tidak bisa menjalani kehidupan jasmani yang banyak godaan.

“Bila dipanggil untuk kemerdekaan, maka ambillan dalam cinta kasih.” (Tatik)