Artikel

20-Oct-2015

Tatik

Kasih Melampaui Rasa Suka

Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu (Ul. 6:5).

Sejak kecil kita didorong untuk menunjukkan kasih, untuk orangtua, binatang kesayangan atau untuk para sahabat, dan terutama untuk Yesus. Tetapi apakah kasih itu?

Kita menganggap kasih adalah suatu emosi, suatu perasaan lembut, dan suatu tindakan yang positif. Maka, ketika Kitab Suci memerintahkan kita untuk mengasihi Allah dan sesama, kita mungkin bingung dengan arti kasih tersebut (Matius 22:37-40).

Perasaan memang bukan sesuatu yang dapat diperintah. Seorang Ibu dapat memerintah anaknya untuk menyukai bayam, tetapi ia tidak dapat memaksanya untuk memberikan reaksi yang positif ketika berhadapan dengan sayuran berwarna hijau itu.

Jadi, kasih pasti lebih dari sekadar emosi. Sebuah terjemahan kuno dari perintah Tuhan mungkin membantu kita untuk memahami kasih sebagai suatu tindakan yang kita pilih, yaitu “Kasihilah ….”

Mengasihi berarti memilih untuk sabar, murah hati, tidak memegahkan diri, dan tidak sombong (1 Kor. 13:4,5). Kita dapat mengasihi orang lain walaupun kita mungkin tidak menyukai mereka, karena mengasihi berkenaan dengan hal membuat pilihan.

Ya, kita dapat merespons dengan penuh ketaatan untuk melakukan hal yang diarahkan Juru Selamat kita. Namun, Dia tahu bahwa kita tidak dapat melakukan hal ini sendiri. Oleh karena itu Dia memberikan Roh Kudus yang memampukan kita untuk menjalani hidup yang penuh ketaatan. Dengan pertolongan-Nya, kita dapat belajar mengasihi orang-orang yang tidak kita sukai. Siapa tahu? Kita bahkan mungkin mulai menyukai mereka.

Mengasihi orang lain membutuhkan hati yang taat kepada Allah. Tuhan Yesus memberkati. (Tatik - sahabatdoa)