Artikel

18-Oct-2015

Arin

Pilih Kristusku Atau Pilih Cintaku?

sumber: https://c1.staticflickr.com/1/600/22355122465_1f1c19202d_n.jpg

Tanggal 18 Oktober 2015 yang lalu, aula Gereja Katolik Santo Thomas diramaikan oleh anak-anak muda dan orang tua. Ada apa sih? Rupanya, mereka bermaksud mengikuti seminar yang diadakan oleh Wanita Katholik RI (WKRI) yang bekerja sama dengan OMK. Tema seminarnya, “Kristusku vs Cintaku”.

Seminar yang diikuti oleh sekitar 200 peserta ini cukup seru. Membicarakan masalah kawin campur, dan bagaimana kita menyikapinya. Pembicara dalam seminar ini adalah Vikjen Keuskupan Bogor, RD Ch. Tri Harsono, dan Komisi Yudisial Keuskupan Bogor, RD Yohanes Driyanto.

Acara diawali dengan drama yang berjudul “Shanti atau Shinta”, ditampilkan oleh OMK St. Thomas dengan ceria dan mengundang tawa. Drama ini disutradai oleh Ina Kaka, OMK Wilayah 4. Mengisahkan tentang seorang pemuda yang galau dalam memilih pasangan yang seiman ataukah yang berbeda keyakinan.

“Yang fantasi luar biasa, bukan rekaan, tetapi kenyataan,” kalimat pembuka dari RD Driyanto saat membuka sesinya. Sebelum membahas apa itu perkawinan, peserta dijelaskan tentang apa itu tujuan perkawinan.

Menurut agama Katolik, tujuan perkawinan itu tidak baik bila manusia sendirian saja, maka Tuhan menciptakan penolong yang sepadan supaya baik adanya. Dari tujuan tersebut, jelaslah bahwa perkawinan merupakan kebaikan bukan kebahagiaan.

“Kalau perkawinan untuk kebahagiaan, mengapa saya harus menjadi Romo?” canda Romo Dri.

Lanjutnya, menurut hakikat gereja Katolik, perkawinan adalah dua pribadi yang menjadi satu daging. Lalu, menurut Yohanes Paulus II, perkawinan itu adalah persekutuan hidup dan kasih. Dan, menurut kitam hukum kanonik, perkawinan itu adalah kesenasiban seluruh hidup.

Bila perkawinan adalah kebaikan dan bukan kebahagiaan, maka, kebaikan pasangan memiliki lima hal penting, yaitu: niat baik, partnership, teman berbagi/seperjalanan, friendship, dan care. Selain kebaikan, ada pula misi perkawinan, yaitu: menjaga kasih agar tetap benar, utuh, dan luar biasa; menyatakan kasih lewat kata, sikap, dan tindakan; dan mengkomunikasikan kasih membuat pasangan sungguh merasa disayangi.

Jika perkawinan dilakukan dalam perbedaan keyakinan, maka perkawinan tersebut akan menakutkan. Mengapa menakutkan? Jika kita bisa melakukan perkawinan beda agama, lalu apakah kita bisa beribadah bersama, apakah kita bisa berdoa bersama dalam satu meja, dan apakah kita bisa mengajarkan anak-anak untuk beribadah?

Mungkin pertanyaan tersebut akan terjawab dengan sendirinya. Akan menakutkan bila kita tidak bisa membuat perkawinan itu baik adanya.

Sesi berikutnya disampaikan oleh RD Ch. Tri Harsono, yang menjelaskan tentang poin-poin penting individu yang akan menikah beda agama dan beda gereja. Keimanan yang dijelaskan oleh Romo Tri adalah keimanan ke-Allah-an Kristus dengan tepat dan benar.

Dasar iman yang kuat, benar, dan baik (tidak tergantikan/tergadaikan) akan membuat baik adanya. Romo Tri mengingatkan kepada umat katolik tentang kejahatan akan ketidaksetiaan, pengkhianatan, murtad khususnya mualaf. Kita diingatkan pula tentang politik atau soal kebangkitan agama yang salah.

Mari kita belajar soal kepastian dalam hidup seperti kematian, keberadaan Allah, Kristus, dan bukti yang dapat dibandingkan dengan siapapun. Kita diingatkan untuk membaca kitab suci, karena dalam kitab suci, kita dapat mengenal karakter, pengetahuan, dan pengalaman iman.

Semua agama adalah buatan dan iman manusia, sehingga mempunyai kekurangan, kelemahan, dan kurang sempurna, tetapi pasti ada yang lebih jelas, lurus, mudah, terang, pasti, dan  tidak cari untung-rugi demi siapapun.

Dalam perkawinan Katolik, pihak yang akan menikah harus berkonsultasi dahulu dengan Pastor, ini dilakukan agar tidak ada kesalahan atau ketidaktahuan, atau pembohongan.

Sementara, akan berisiko tinggi apabila terjadi perkawinan campur, apakah itu beda agama atau beda gereja. Risiko yang bisa dialami adalah keluarga hancur, penderitaan, hilangnya keimanan, hanya sementara atau main-main saja, teladan yang buruk, neraka di depan mata, pertengkaran, dapat menyakitkan orang yang paling dicintai, dan 99% pasangan bercerai.

Yang terpenting dalam perkawinan adalah saling melengkapi. Jadi, pikir-pikir dululah sebelum terjadi kawin campur, bila tidak ingin mengalami risiko tinggi.

Dunia tidak selebar daun kelor lah, bro n sis….. (Arin - Komsos)