Artikel

25-Oct-2015

Tatik

Mari Rawat Bumi, Rahim Pangan Kita

sumber: https://c2.staticflickr.com/6/5728/21891825403_14c9813fde_n.jpg

Ada yang berbeda ketika mengikuti Perayaan Ekaristi di Paroki St. Thomas tanggal 25 Oktober yang lalu. Apa yang beda? Altar Gereja dihiasi dengan berbagai macam hasil bumi yang tak asing lagi bagi kita.

Ya, pada Perayaan Ekaristi pukul 08.00, Paroki St. Thomas merayakan Hari Pangan Sedunia (HPS) 2015, yang jatuh pada tanggal 18 Oktober 2015.

Mengapa Hari Pangan dimunculkan? Dalam homilinya, Pastor Paroki, RD Robertus Eeng Gunawan, mengatakan bahwa Gereja Katolik turut ambil bagian sebagai bentuk keprihatinan dalam persoalan pangan. Ini juga merupakan wujud iman Katolik. Terlebih Bapa Paus Fransiskus telah memberikan pesannya melalui ensiklik Laudato Si (Terpujilah Engkau, Tuhanku). Tuhan sudah begitu baik memberikan kepada kita dan sekarang kita harus merawat apa yang sudah diberikan oleh bumi kepada kita.

Namun, sering kali karena keserakahannya, manusia kurang peduli pada apa yang sudah diberikan Tuhan sehingga menghalalkan segala cara demi memperoleh apa yang diinginkannya. Seperti membakar hutan, yang sedang dialami sekarang ini.

Oleh karena itu, marilah kita menjaga dan merawat, membantu serta menolong sebagai bentuk solidaritas kita. Itu semua bisa kita lakukan dalam keseharian keluarga, seperti makan bersama keluarga, dan menyajikan makanan sehat. Masih banyak orang kelaparan di sekitar kita, tetapi masih saja ada di antara kita yang membuang makanan. Maka, sajikanlah makanan secukupnya agar jangan sampai kita membuang-buang makanan.

Terhadap lingkungan, kita mulai menghemat air tanah, apalagi di musim kemarau panjang seperti sekarang ini. Jangan sampai memboroskan air untuk hal-hal yang tidak berguna, kita masih membutuhkan air untuk kehidupan kita.

Bentuk solidaritas kita terhadap lingkungan di sekitar kita, terutama umat Paroki St. Thomas adalah melalui gerakan Orang Tua Asuh (OTA). Pastor Paroki mengajak warga St. Thomas untuk ikut serta dalam gerakan OTA demi keberlangsungan sekolah anak-anak dari kalangan yang tidak mampu. Seberapa pun besarnya andil yang diberikan, tapi itulah wujud kepedulian dan solidaritas sebagai orang Katolik.

Yang unik dari Perayaan Ekaristi dalam memperingati HPS 2015 ini adalah persembahan “gunungan” hasil bumi. “Gunungan” dibawa oleh para punggawa “kerajaan” St. Thomas, untuk dipersembahkan sebagai ucapan syukur atas rezeki yang sudah diberikan Tuhan kepada “rakyat” St. Thomas.

Lomba Tumpeng dari Bahan Singkong

Acara memperingati HPS 2015 ini dilanjutkan di aula Gereja St. Thomas, yang dimulai dengan perarakan “gunungan” hasil bumi. Dengan iringan musik keroncong kami dihibur dihibur dengan lagu-lagu kenangan dan lagu-lagu peringatan HPS 2015.

Di dalam aula sendiri, telah siap 11 peserta lomba tumpeng dari setiap wilayah (dari 12 wilayah di Paroki St. Thomas). Mereka siap menanti penilaian para juri. Kalau tumpeng dari nasi itu sudah biasa, maka lomba tumpeng kali ini adalah kreasi tumpeng dari bahan bahan pangan singkong.

Unik memang, ternyata singkong tidak hanya bisa digoreng dan direbus saja. Para ibu di Paroki St. Thomas rupanya cukup kreatif dalam mengolah singkong ini. Bisa dijadikan combro, misro, sawut, tiwul, gatot, getuk, kue kacamata, bahkan bisa jadi perkedel, atau balado, sebagai lauk-pauk.

Mengapa singkong? Ini dimaksudkan agar kita tidak terlalu tergantung pada nasi, sebagai makanan utama kita. Masih banyak bahan pangan lain yang bisa menjadi makanan utama kita, salah satunya ya singkong ini. Toh, singkong yang dijadikan sawut, enak-enak saja kok, dengan teman tahu-tempe bacem, dan pecel sayuran. Atau, getuk singkong yang berteman perkedel singkong dan balado keripik singkong.

Tiga orang juri ditampilkan untuk menilai kreasi tumpeng para peserta. Mereka adalah, Ibu Feria dari WKRI DPD Bogor, Ibu Mamiek Sudomo dari WKRI St. Thomas, dan Sr. Maria Fabiola. Kriteria penilaian yang disampaikan oleh para juri yaitu; rasa, penyajian, kebersihan, kerapian, dekorasi, dan kreativitas dalam memadupadankan singkong dengan bahan-bahan lain.

Berikut ini hasil penjurian lomba tumpeng.

  1. Juara 1. Nilai 720, nomor undian: 10 (Wilayah IV)
  2. Juara 2. Nilai 712, nomor undian: 1 (Wilayah XI)
  3. Juara 3. Nilai 690, nomor undian: 8 (Wilayah VIII)
  4. Juara Harapan 1. Nilai 680, nomor undian: 7 (Wilayah I)
  5. Juara Harapan 2. Nilai 643, nomor undian: 9 (Wilayah X)
  6. Juara Harapan 3. Nilai 440, nomor undian: 2 (Wilayah VI)

Selamat kepada para pemenang. Masih ada kesempatan bagi yang lain untuk berkreasi. Semoga di tahun mendatang, kreativitas dengan bahan pangan lain bisa ditampilkan. (Tatik)