Artikel

29-Nov-2015

RD. Albertus Kurniadi

Keluarga dan Kerahiman

Keluarga menjadi tema inspiratif, karena tak pernah selesai dibicarakan tak selesai memberi inspirasi disepanjang jaman. Keluarga berada dipersimpangan jalan dalam arti banyak konsekuensi  dihadapi oleh keluarga. Resiko di depan mata yang ditemukan jaman sekarang, keluarga berdiri hanya seumur jagung. Mudah untuk mengatakan “yuuuk mari kita selesaikan berdua sebagai pasangan”.  Namun ego meraja di hati pasangan hingga yang muncul kepermukaan adalah marah, ingin menang sendiri, mau kuasa dengan pasangan.

Keluarga Rahim Belas kasih
Keluarga berada dalam persimpangan zaman menjadi titik refleksi kita bersama, persimpangan jalan menuntut kita untuk berefleksi sejenak, melihat kembali mau melangkah kemana saudara dan pasangan saudara. Persimpangan jalan tidak membuat kita untuk saling bertolak pinggang, melainkan saling bertolak ke tempat yang dalam, basah, dingin, banyak bahayanya tau. Lantas siapa suruh kawin.

Memang ketika kita berani mengucapkan janji setia kekal, kita berhadapan dengan kenyataan untuk bertolak ketempat yang dalam menggalami suka duka perkawinan hingga basah kuyup, kedinginan, tak tahu ada apa di dalam air, dinamika tersebut dinamika yang wajar, semua orang mengalaminya, semua orang merasakan kecemasan yang sama. Lantas kalau janji sudah terucap mampukah kita menarik kembali wong “ Barang yang sudah dibeli tak dapat dikembalikan”.

Keluarga rahim belas kasih menjadi tema pembicaraan yang penting. Arti rahim pasti setiap ibu sudah mengetahuinya, para bapak pun sudah menggalami apa yang harus dibuat, apa yang dikerjakan pada tahap awal janin hingga menjadi manusia. Rahim bukan saja tempat yang aman tetapi tempat curahan kasih sayang yang paling mendalam, paling mendasar karena dalam rahim inilah menjadi penentu menjadi apakah anak ini kelak. Di dalamnya suami dan isteri mengalami sekolah kasih nyata yang dialami setiap hari.

Rahim menjadi sekolah curahan kasih, karena hari hari hidupnya suami dan isteri berjuang untuk saling membangun kepercayaan, membangun komunikasi kasih, membangun kenyamanan bagi individu yang ada di dalam rahim, ibu yang mengandungnya maupun manusia terdekat dalam keluarga tersebut. Keluarga menjadi rahim belas kasih berarti keluarga menjadi sekolah bagi setiap insan untuk mengalami bahwa dirinya berharga dan dicintai secara penuh dan utuh, sebab ketika manusia mengalami dirinya berharga dan dicintai menjadi tanda yang memampukan dirinya untuk membangun jati dirinya, serta mengembangkannya bagi sesama. Ketika pengalaman cinta tak mereka dapatkan runtuhlah seluruh harga diri mereka dan mereka tak tahu harus berbuat apa, harus bagaimana serta tak memliki kemampuan untuk berbagi kepada yang lain. Keluarga jadilah sekolah kerahiman yang membuat orang menggalami cinta dan kasih yang sejati. RD. Albertus Kurniadi