Artikel

06-Dec-2015

RD. Yustinus Joned S.

"BERTOBATLAH DAN ALLAH AKAN MENGAMPUNI DOSAMU"

(Lukas 3: 1-6)

Saudara terkasih,

Ciri pokok ibadah minggu ini menyongsong kedatangan Tuhan, kedatangan Kerajaan Allah. Dan Kerajaan Allah itu sudah dekat, bahkan sudah datang. Sementara itu Tuhan Yesus mengajarkan bahwa mereka yang berada dalam kedosaan, mereka itu berada di bawah kuasa Kerajaan Kegelapan. Kita ingat kata Paulus: ‘upah dosa adalah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita’ (Rm 6:23).

Karena itu Yohanes Pembaptis sebagai perintis ‘jalan bagi Tuhan’ menyerukan dengan lantang: “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu!” (Luk 3:3; Mrk 1:4). Bertobat itu sangat erat berhubungan dengan Kerajaan Allah itu. Pertobatan itu bukan sekedar tambahan, melainkan suatu sikap dasar yang harus dibangun dalam Kerajaan Allah. Tepatlah tindakan yang diperbuat Yohanes Pembaptis dalam mempersiapkan jalan bagi Tuhan: membuang segala sesuatu yang jahat dan buruk; membersihkan yang kotor; dan melakukan segala sesuatu yang baik, pantas, benar dan terpuji! Inilah inti pokok pertobatan itu.

Maka pertobatan ini harus dimulai dari diri sendiri. Perubahan harus dimulai dari diri sendiri. Hal ini berarti bahwa kita tidak perlu terlalu repot dengan urusan orang lain…. "… biarkanlah orang lain mengurus hidupnya sendiri”. Lebih baik marilah kita membenahi hidup kita, melihat aspek kehidupan yang mesti dibetulkan, dan menata kembali

Pertobatan itu juga dapat berarti mempersiapkan jalan dan meluruskan arah kehidupan kita kepada apa yang dikehendaki atau dicita-cita Allah. Bila kita pecaya bahwa kedatangan Yesus itu merupakan kehendak dan cita-cita Allah, maka pantaslah kalau kita membuka hati dan mendengarkan apa yang akan disabdakan Tuhan Yesus. 

Maka dapat dikatakan pertobatan itu adalah isi perjalanan ziarah rohani kita. Artinya selama peziarahan ini, kita mesti membuat perjalanan menuju tingkat kesadaran iman yang baru, tingkat cara hidup kristen yang baru, yaitu mewujudkan seruan Yohanes: “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis.” Di sini Yohanes Pembaptis tidak berbicara supaya kita menobatkan orang-orang lain di sekitar hidup kita, melainkan agar ‘pertobatan’ dimulai dari diri kita sendiri.

Karena itu pertobatan juga berarti sikap meninggalkan segala sesuatu yang dirasakan sebagai penghambat dan penghalang untuk mewujudkan kesejahteraan bersama orang lain dan kebahagiaan dalam hidup bersama Allah.

Dalam Injil minggu Advent ke II ini, Yohanes Pembaptis mengajak setiap orang bertobat untuk dapat menyambut kerahiman dan memperoleh pengampunan dari Allah. Ajakan Yohanes tidak hanya disampaikan melalui kata, tetapi dinyatakan melalui cara hidupnya yang sederhana. Seruan Yohanes Pembaptis masih relevan di jaman kita. Di mana semangat konsumerisasi dan glamourisasi makin digemari banyak orang. Kata-kata Yohanes Pembaptis itu menjadi peringatan bagi kita. Di tengah kehidupan yang penuh kompromistis antara yang baik dan jahat; juga antara koruptor dan orang yang mau menggunakan aji-aji “mumpung ada kesempatan” dan “selagi punya wewenang’. Yohanes Pembaptis tampil dengan berani untuk tidak kompromi dengan bentuk tindak kejahatan dan kebiasaan buruk.

Seruan pertobatan yang disampaikan Yohanes Pembaptis merupakan satu titik awal hidup yang baru. Secara simbolik, Yohanes sudah menunjukkan cara hidup yang baru. Tempat tinggal, pakaian, dan makanannya adalah salah satu bentuk protes dari cara hidup orang-orang Yahudi pada waktu itu yang kental dengan kemapanan. Dengan suara lantang ia berseru: “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu!”

Mereka bertanya kepada Yohanes: “Apakah yang harus kami perbuat?” Yohanes menggunakan kesempatan itu secara tepat. Menurut Lukas, apa yang Yohanes katakan:

  1. Kepada sekelompok orang Yohanes berseru: “Barang siapa mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membagi-nya dengan orang yang tidak punya. Dan barangsiapa mempunyai makanan, hendaknya ia berbuat demikian juga.” Janganlah lupa melayani sesamamu, agar mereka tidak berkekurangan akan kebutuhan yang mendasar, yaitu makanan dan pakaian ataupun papan.

  2. Kepada kelompok pegawai cukai, yang juga datang bertanya ‘apakah yang mesti kami perbuat’? Yohanes menjawab: “Janganlah menagih lebih banyak daripada apa yang telah ditentukan.” Dalam masyarakat kita saat ini mungkin relevan apabila dikatakan: “Jangan menipu, mengelabui dan memeras masyarakat kecil; janganlah melakukan tindak korupsi dan kecurangan dengan cara apapun yang welo-weloj (jelas) melanggar hukum kasih!”

  3. Kepada kelompok orang yang memiliki pengaruh di tengah masyarakat, Yohanes juga berkata: “Janganlah mudah mengintimidasi masyarakat; dan janganlah memeras hak-hak masyarakat yang lemah. Cukupkan hidupmu dengan gajimu sendiri sekarang.”

Saudara terkasih,

Masa Advent memberikan kesempatan kepada kita untuk berubah dari cara hidup lama ke pada cara hidup yang baru. Masa Adventus merupakan masa persiapan kedatangan Kristus. Yohanes Pembaptis menyerukan agar kita “bertobat”.

Dalam masa Advent ini, bertobat berarti “memberikan jawaban ya” atas undangan Allah. Allah yang mahakasih berkenan menerima dan mengampuni dosa kita, asal kita, manusia yang berdosa ini bersedia bertobat.

Sementara itu, pertobatan dan perubahan hidup yang diwartakan Yohanes adalah konkret, bahkan terperinci, sambil menaruh perhatian kepada sesama kita yang berkekurangan, menderita, dan sakit. Hal yang dituntut Yohanes sebagai buah-pertobatan, buah-peziarahan kita adalah “jadilah orang yang murah hati terhadap sesamamu!” Jadilah man for others sebagaimana Yesus, datang untuk menyelamatkan orang lain. (RD. Yustinus Joned Saputra)