Artikel

13-Dec-2015

RD. Albertus Kurniadi

Menjadi Pembantu

Manusia modern saat ini tak asing dengan kata pembantu. Profesi ini sering menjadi profesi andalan yang bisa cepat menghasilkan. Di sisi lain profesi ini rentan dengan berbagai macam bentuk ketidakadilan, kesewenang-wenangan dari majikan ke bawahan. Profesi ini juga sering dihindari oleh keluarga-keluarga muda saat ini karena menghasilkan kesewenang-wenangan dari pelaku pembantu itu sendiri.

Bacaan hari ini mengangkat Yohanes pembaptis, yang mengangkat dirinya sebagai “pembantu“ membungkuk dan membuka tali kasutnya pun aku tidak pantas.

Berjaga-jagalah

Minggu adven ketiga diwarnai dengan penampilan yang unik. Keunikan ditampilkan warna liturgi yang berbeda dari biasanya. Warna pink, warna yang tidak lazim digunakan tetapi mengandung warna kemeriahan, makin dekatlah yang dinanti, makin dekatlah sukacita itu.

Semakin dekatnya sukacita bertambah semarak dengan tampilnya Yohanes Pembaptis di padang gurun yang menyerukan sebuah pembaharuan hidup, sebuah komitmen hidup yang hendak diperjuangkan di masa depan. Namun komitmen hidup yang dibangun untuk masa depan ini berlandaskan pada semangat pembantu. Yakni berjaga senantiasa demi kegembiraan majikannya. Semangat berjaga ini dikatakan oleh Yohanes Pembaptis dengan mengatakan “jangan”, alat penampi sudah ditangan-Nya. Komitmen hidup disejajarkan dengan berjaga karena sering kali kebanggunan rohani yang baru bertunas ini mengandung resiko yang tidak kecil. Lihatlah anak kecil yang baru lahir itu membutuhkan perhatian yang ekstra dari orangtuanya. Begitu pula komiten hidup untuk berubah membutuhkan perlindungan yang ekstra pula karena sering kali berhadapan dengan badai topan yang menghadang. Bahkan biasa diinjak-injak orang.

Komitmen yang baru tumbuh ini tentunya membutuhkan perlindungan dan topangan. Karena komiten yang baru ini mudah dipengaruhi dan dihinggapi berbagai macam kepentingan lama yang tak mau ditinggalkan atau tak mudah dilupakan. Komitmen baru memang membangkitkan semangat dan ketangguhan untuk dibagikan dan diperjuangkan, bagaikan tetesan air hujan di tengah kemarau berkepanjangan.

Maka semangat berjaga-jaga yang sering ditunjukkan oleh para pembantu ini, mengajak kita untuk tak mudah kendor, tak mudah putus asa walaupun berhadapan dengan badai topan, berhadapan dengan kemapanan yang telah kita alami selama ini. Walaupun sudah larut malam maupun baru menginjak subuh mereka tetap berjaga melakukan tugas mereka walaupun terkadang membuat semua terlambat dan bersabar para majikkan. Hal ini nampak dari penampilan mereka yang masih ngantuk, mata merah, ngos-ngosan saat sang majikkan datang. Pasti datang, pasti menjalankan apa yang dinantikan itu, dan itulah adven, menanti sebuah harapan baru yang pasti datang dengan pelan. Selamat memasuki advent III. RD. Albertus Kurniadi