Artikel

20-Dec-2015

nn

Minggu Adven IVC

Mi 5:1-5a; Ibr 10:5-10; Luk 1:39-45

Saudara-saudari terkasih,

Hari ini, kita sudah memasuki Minggu Adven IV, Minggu terakhir bagi kita untuk persiapan Natal. Pada persiapan akhir menjelang perayaan Natal ini, kita diajak untuk belajar dari tokoh-tokoh iman: Maria, Elisabeth, dan Yohanes Pembaptis.

Pertama, Bunda Maria. Maria, setelah menerima kadatangan Malaikat Gabriel bergegas mengunjungi Elisabet saudaranya (Luk 1:39). Jarak yang ditempuh paling sedikit 150 km di daerah perbukitan. Bayangkan, seorang gadis harus naik-turun perbukitan menempuh jarak sejauh itu, seorang diri lagi! Tentu, ada semangat yang luar biasa dalam diri Maria. Dari manakah datangnya semangat itu?

Tentu saja dari kunjungan Malaikat Gabriel yang membawa kabar gembira baginya. Baru saja, ia menerima kasih karunia Allah (Luk 1:28). Berkat kuasa Allah dan karunia Roh Kudus yang turun atasnya, ia dipilih Allah untuk mengandung dan melahirkan Yesus, Sang Anak Allah Yang Mahatinggi (Luk 1:30-35). Mungkin, ia tidak sepenuhnya memahami kehendak Allah atas dirinya itu. Namun, keterbukaan dan kepasrahannya untuk melaksanakan kehendak Allah menjadikan ia mempunyai semangat baru. Ia telah menerima warta gembira, maka dengan penuh semangat hendak berbagi kegembiraan kepada Elisabet, saudaranya. Dari sini, kita belajar bahwa warta gembira, berkat dan kasih karunia yang kita terima, tidak untuk kita simpan bagi diri kita sendiri tetapi untuk kita bagikan kepada sesama. Maka, marilah kita saling berbagi berkat, kasih karunia dan sukacita.

Untuk berbagi berkat, kasih karunia dan sukacita, Maria harus mau berlelah-lelah, mengorbankan waktu dan tenaga, juga siap menghadapi resiko di perjalanan. Jarak 150 km kemungkinan hanya ditempuh dengan jalan kaki. Kalau kecepatan rata-rata 5 km/jam, paling tidak memakan waktu 30 jam (sehari semalam lebih). Pasti melelahkan dan berisiko, apalagi pada malam hari. Namun, ia berani menghadapi semua itu karena ia percaya penuh bahwa Tuhan selalu menyertainya (Luk 1:28). Maka, dalam berbagi berkat, kasih karunia dan sukacita, hendaknya kita juga berani berkorban, berani berjerih lelah, dan berani menghadapi risiko karena yakin bahwa Tuhan selalu menyertai kita.

Kedua, Elisabet. Sebagai tanggapan atas kehadiran Maria yang membawa sukacita dan berkat, Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus sehingga hatinya bersukacita dan mulutnya mengucapkan berkat (Luk 1:42). Dengan demikian, perjumpaan antara Maria dan Elisabet merupakan perjumpaan yang membuahkan sukacita dalam Roh Kudus. Juga merupakan perjumpaan yang saling berbagi berkat. Mari kita belajar dari Elisabet untuk menerima kehadiran setiap orang dengan penuh sukacita. Kalau kita selalu menerima kehadiran setiap orang – keluarga (suami/istri, anak, saudara/i), tetangga, rekan kerja, dll – dengan penuh sukacita, apa pun keadaan mereka, pasti perjumpaan-perjumpaan dan hidup bersama kita akan diwarnai sukacita. Dalam suasana itulah, kita tidak akan saling memaki dan mengutuk, mencaci dan membenci, tetapi saling memberkati, memuji, menghormati, dan menghargai.

Ketiga, Yohanes Pembaptis. Sewaktu Maria berkunjung ke rumah Elisabet, usia Yesus dalam rahimnya, baru beberapa waktu (Luk 1:39). Sementara itu, usia Yohanes di rahim Elisabet sudah 6 bulan lebih. Janin berusia 6 bulan sudah mampu mendengarkan suara-suara dari luar, dan mampu merasakan apa yang dirasakan oleh sang ibu. Artinya, Yohanes sudah bisa mendengarkan suara dari luar, yaitu percakapan Maria dan Elisabet yang saling berbagi salam dan berkat. Ia juga bisa ikut merasakan kegembiraan dan sukacita ibunya sehingga melonjak kegirangan (Luk 1:44). Namun, yang lebih penting dari semua itu adalah, Yohanes melonjak kegirangan karena ia mampu menangkap kehadiran Tuhan yang tidak kelihatan karena tersembunyi dalam rahim Maria. Maka, belajar dari Yohanes Pembaptis, kita pun diharapkan peka dan mampu menangkap/menyadari kehadiran Tuhan yang tidak kelihatan dan tersembunyi dibalik berbagai macam peristiwa yang kita lihat, kita dengar dan kita alami.

Marilah, pesan-pesan bacaan hari ini kita bawa dan kita satukan dengan sukacita Natal untuk kemudian kita wujudkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Pertama, kita diundang untuk saling berbagi berkat, kasih karunia dan sukacita, sekalipun harus disertai pengorbanan, kelelahan dan berbagai macam risiko yang harus kita tanggung. Kita percaya bahwa Tuhan selalu menyertai kita. Kedua, kita diajak untuk berani menerima setiap orang dengan penuh sukacita, apa pun keadaan mereka. Dengan demikian, kehidupan bersama kita akan mengalami damai sejahtera karena tidak ada lagi saling memaki dan mengutuk, mencaci dan membenci, tetapi saling memberkati, memuji, menghormati, dan menghargai. Ketiga, kita diajak untuk semakin peka menyadari kehadiran Tuhan yang tidak kelihatan dan tersembunyi dibalik berbagai macam peristiwa yang kita lihat, kita dengar dan kita alami. Kalau Natal berarti “Hari ini telah lahir bagimu Juru Selamat, yakni Kristus Tuhan” (Luk 2:11), maka sebenarnya Yesus setiap hari hadir dalam kehidupan kita. Semoga, kita semakin peka untuk menyadari dan merasakannya.